Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat, Upaya Penanggulangan Kemiskinan

Kontribusi pariwisata bagi pertumbuhan ekonomi provinsi NTB terus mengalami peningkatan. Dari tahun ke tahun kalau diukur dari investasi di sektor pariwisata semakin naik, meskipun belum mampu mendekati investasi di pertambangan. Daerah NTB di bawah kepemimpinan gubernur baru terus memperkuat sektor pertanian dan pariwisata untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang menghidupkan 5,8 juta jiwa masyarakatnya, di sektor  pertanian akan membangun industri olahan ke depannya. Lalu sektor pariwisata sudah jelas, salah satu prioritas pariwisata ke depannya adalah mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism).

“kita punya KEK Mandalika, seluruh daerah di  Indonesia memiliki Kawasan ekonomi khusus. Tapi satu yang berhasil dikembangkan dari delapan KEK se-Indonesia adalah KEK Mandalika. Kita tidak akan memunculkan mandalika-mandalika baru ke depan. Tetapi kita akan fokus membangun pariwisata berbasis masyarakat sebagi upaya menanggulangi kemiskinan” ungkap Kepala Bappeda NTB, Ir. Ridwan Syah, MSc.,MM.,MTP pada Kegiatan Diklat Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan (Perarasnasi) di Hotel Grand Legi Mataram, (28/11).

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat lebih kepada pengembangan wisata di desa-desa. Tidak semua provinsi memliki potensi seperti di NTB. Kekayaan NTB dari puncak gunung, perut bumi hingga ke dasar laut, ini suatu karunia Tuhan yang kompetitif tidak dimiliki oleh daerah lain. 

“kita tak cukup bangga bahwa NTB telah dinobatkan sebagai daerah The Best World Halal Tourism,” jelas Ridwan.

Branding ini mau tidak mau harus dijaga dengan baik, pulau Lombok di kenal dengan pulau seribu Masjid meskipun jumlahnya sudah mencapai 5000 masjid. Oleh karena itu, dalam pembenahan destinasi baik di Kawasan ekonomi khusus maupun di desa-desa wisata. Perlu dipertegas fungsi branding halal tourism ini dengan menyediakan tempat dan ruang yang benar-benar enjoi bagi pendatang. 

Selain itu, Ridwan juga menyampaikan ide untuk menciptakan wisata yang lebih unik lagi “di Lombok Utara terdapat tiga gili. Gili trawangan ok lah dengan segala hingar-bingarnya. Kenapa tidak coba kita buat gili air itu sebagai pulau wisata keluarga. Ketika turis datang dengan keluarganya, mereka tidak terpelosok ke tempat yang tidak baik bagi anak-anak,” jelasnya.

Keunikan destinasi NTB yang dikembangkan dapat membuat orang lain semakin tertarik, belum tentu daerah lain memilikinya. Jangan membuat destinasi atau pun desa wisata hampir sama dengan daerah lain. 

Dikatakannya, kata kunci dalam pengembangan pariwisata bahwa apa yang dimiliki oleh NTB tidak ada perbedaan yang sangat jauh dengan Bali, tapi kekuatan di Bali mereka mampu menciptakan destinasi dan potensi yang dimiliki sehingga semua orang tertarik untuk mengunjungi. 

"Tantangan buat kita adalah belum ada kesadaran menjadi bangsa yang bersih. Semua destinasi kita hampir semuanya kotor," jelasnya.

Oleh sebab itu, kesadaran untuk menjaga kebersihan destinasi perlu dikembangkan lagi.  Pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membangun destinasi dengan prisnsip berbasis masyarakat terus diupayakan.

"Saya pikir masyarakat akan menjadi pemain utama, karena mereka akan memetik manfaatnya," tutur Ridwan.

Kegiatan diklat ini yang digelar selama lima hari sejak tanggal 26-30 November 2018 oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi NTB dihadiri oleh utusan Dinas Pariwisata Provinsi di seluruh Indonesia.(Man-tim media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru