Menembus Kepingan Surga Di Lombok

Dari Ampenan Kota Tua, perjalanan bermula.Pagi itu, perjalanan dengan menyusuri kitaran pesisir pantai Lombok Barat menuju Dermaga kecil Bangsal masih terbalut sunyi.  Cahaya langit mulai tampak cerah dengan kebiru-biruan. Deretan bukit anggun di sepanjang jalan tampil mempesona, seolah-olah tersipu menyambut aktifitas seorang petualangan yang pagi itu akan menyeberang ke Gili Trawangan. Demikian pula dengan laut di sekeliling nyaris tak berteriak.   


Tempat jual-beli tiket penyeberangan ke Desa Gili Indah mulai aktif melayani para penumpang. Mereka harus siap-siap sibuk, melayani para penumpang  ke tiga tujuan. Tujuan ke Gili Air, Gili Menu, dan Gili Trawangan. Secara administratif, ketiga gili itu merupakan tiga dusun yang dipersatukan ke dalam sebuah desa, yaitu Desa Gili Indah.

Berbekal perahu umum, sekitar dua puluhan penunmpang menjauhi Dermaga Bangsal. Ini adalah perjalanan saya yang kesekian kalinya menyeberang dari Bangsal hingga ke Gili Trawangan. Tapi walaupun telah berulang kali menjelajah di atas laut menuju Gili Trawangan, jangtung saya selalu berdebar-debar ketika perahu yang kami tumpangi berhadapan dengan ombak, walaupun pagi itu ombaknya masih kecil. Mungkin karena pengalaman-pengalaman sebelumnya, ketika menyeberang di kawasan ini saya selalu berhadapan dengan ombak terjal pada waktu siang. Padahal, juru mudi dan penumpang lainnya masih tetap tenang, bahkan sebagian mereka bercanda, dan atau menikmati panorama laut yang ada di sekitar.

Mengekplorasi Gili Trawangan dan menjejakkan kaki di kawasan pesisir pantai berpasir putih adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi sang penikmat. Agaknya saya tertular “virus cinta” dari orang-orang asing yang senang menjelajah di berbagai tempat wisata, khususnya yang ada di Pulau Lombok.

Matahari pagi mulai meninggi. Rasa letih terasa pada seluruh otot-otot tubuh. Sebotol air mineral mencoba mestabilkan kekuatan fisik. Saya pun memilih duduk dan diam di atas pasir putih,seperti yang dilakukan oleh para pelancong berkulit putih. Tapi kedua bola mata saya tetap merekam eksotisnya Gili Trawangan pada wilayah pantai. Air laut bening, hamparan pasir putih tampak keasliannya oleh sinara matahari. Sebagian wisatawan berendam dengan busana pantai, sebagian pula menikmati keindahan biota laut dengan menggunakan snorkeling. Di seberang sana, pada air laut yang agak dalam, pemandu diving sibuk menuntun pserta diving di atas boot. Mereka tentu akan menikmati keindahan bawah laut Gili Trawangan yang rupawan. Mereka tentu akan bercenkerama dengan aneka rupa terumbukarang dan kawanan ikan yang berwarna-warni. “Sungguh indah panorama bawah laut, terumbukarang berwarna-warni dan aneka rupa ikan cantik,” ungkap Philipe, pelancong asal Perancis.

Sejatinya, Gili Trawangan dapat dikelilingi dengan hanya berjalan kaki di sepanjang pesisir pantai. Posisinya benar-benar dikepung oleh perairan jernih yang memliki warna gradasi hijau dan kebiru-biruan.

Memancing adalah salah satu aktifitas mengasyikkan yang banyak dilakukan oleh pengunjung lokal. Namun jika ingin melakukan aktifitas yang satu ini, lebih menantang jika melakukan pada periaran yang agak mengaah ke bagian laut yang agak dalam denggunakan perahu mungil.

Sebagai tempat wisata yang sudah mendunia, Gili Trawangan dilengkapi dengan berbagai fasiltas, mulai dari standar pengunjung lokal hingga standar Internasional. Bunga Law, Home Stay, Hotel, atau Villa adalah fasiltas yang sungguh memadai para pengunjung atau wisatawan. Demikian pula untuk kebutuhan makan dan minum, Gili Trawangan menyiapkan warung makan dan minum khusus untuk pengunjung lokal, dan rumah makan atau restoran serta café yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan manaca negara.

Matahari sudah hampir senja, saya pun merasa puas menjelajahi Gili Trawangan yang layaknya kepingan surga yang terjatuh di Pulau Lombok. Sejurus itu, saya bergegas mencari tiket penyeberangan menuju Dermaga Bangsal. Saya pun kembali menikmati perjalanan di atas laut, walaupun jantung saya kembali berdebar-debar karena ulah ombak mulai menerjang keras pada perahu yang kami tumpangi. Tapi Alhamdulillah, juru kemudi masih tenang-tenang saja dan masih tersenyum, sehingga saya pun berusaha untuk tenang, dan akhirnya tiba di di daratan Pulau Lombok dengan selamat.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru