Air Terjun Kampung Media, Syurga di Jantung Ketapang


KM. Sukamulia – Kekuasaan Allah SWT memang tidak habis-habisnya, kali ini kami menemukan sebuah air terjun yang ketinggiannya mencapai 30 meter dengan destinasi yang begitu menawan. Air terjun yang berda di jantung Hutan Ketapang Daya Desa Madayin ini sungguh mempesona, bahkan pesona yang ditawarkannya belum pernah saya temukan di air terjun lain yang pernah saya kunjungi di bumi Lombok. Karena air terjun ini belum pernah dikunjungi oleh orang dan bahkan belum ada yang mengetahui namanya maka kami-pun sepakat menamakannya dengan nama Air Terjun Kampung Media sebab yang menemukannya adalah warga Kampung Media.

Kamis malam, Mansur (Ketua Karang Taruna Desa Madayin) menghubungi saya, ia menyampaikan bahwa ia mendapatkan informasi dari saudara Wawan (Pemuda Desa Madayin) bahwa di tengah Hutan Ketapang Daya Desa Madayin terdapat sisa-sisa perkampungan tua lengkap dengan sisa-sisa alat-alat rumah tangganya. Katanya Wawan mendapatkan informasi dari kakeknya yang telah menjelajahi hutan itu semasa beliau masih sehat. Dalam komunikasi itu, saya dan Mansur sepakat untuk menelusurinya.

Penelusuran kami laksanakan pada hari Kamis, 21 September 2017 M yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1939 H. Sebelum berangkat, beberapa orang pemuda Madayin diajak ikut oleh Mangsur namun mereka tidak ada yang sanggup untuk ikut melaksanakan missi tersebut. Ahirnya hanya saya, Mansur, Wawan dan Van Gaus yang berangkat. Tepat pada pukul 09.05 wita, kami memulai perjalanan menelusuri Hutan Ketapang.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 wita yang artinya sudah setengah hari lamanya kami menelusuri hutan namun kami tidak menemukan sisa perkampungan tua yang kami cari. Malahan kami terjebak di dalam hutan bambu yang begitu lebat dan tidak ada jalan setapak yang bisa kami ikuti lagi untuk berjalan mencari sisa perkampungan tua itu. Kami betul-betul bingung, tenaga kami sudah terkuras, namun demikian semangat kami masih kuat untuk terus berjalan.

Dalam kebingungan di tengah belantara, saya-pun mengajak Wawan dan Mansur untuk kelur dari hutan yang kami tidak tau kemana arah keluarnya. Di tempat itu, tidak ada tanda-tanda jalan yang bisa kami ikuti sehingga kami harus berusaha membuat jalan setapak dengan melibas semak-semak dan rerimbunan pohon bambu dengan sebilah parang yang dibawa oleh saudara Mansur. Sejenak kami duduk mencari solusi terbaik sebab kami betul-betul terjebak di dalam hutan bambu yang begitu lebat dan luas. Tempat itu betul-betul belum terjamah. Hanya sauara kicauan burung yang berdendang di sela-sela nyanyian daun pohon yang ditiup angin dan hanya deru air yang kami dengar dari tempat itu.

Saat beristirahat dalam kebingungan, Mangsur mengeluarkan rokok dan kami duduk bingung sambil menghisap garam rokok yang terselip di sela-sela jari tangan kami masing-masing. Saat menikmati garam rokok, saya pun mengusulkan supaya kami berjalan menuju suara air yang berderu sebab menurut hemap pemikiran saya, suara deru air itu bersumber dari sungai yang besar dan tentunya kami akan lebih nyaman menesuri hutan dan mencari jalan pulang melalui aliran sungai itu. Usulan itupun diterima oleh Wawan dan Mansur.


Kami beranjak dari tempat duduk dan mulai melakukan perjalanan menuju arah deru air. Mansur kami tunjuk sebagai pemimpin yang bertugas untuk membabat semak-semak guna membuat jalan setapak supaya kami bisa sampai di deru air itu. Kurang lebih dua jam, kami berjalan dan kami sampai jua di pinggir tebing yang cukup curam. Di bawah tebing itu terlihat aliran sungai yang cukup besar dan dari sana kami juga melihat terjunan air yang begitu tingginya yang tampaknya tidak terlalu jauh dari tempat itu.