Tersesat di Keindahan Bukit Batu Idung

Kalau orang galau, salah koment di medsos, atau suka nyinyir dan bully orang lain, pasti ada yang nyeletuk “ah kamu kurang piknik”. Lho apa urusannya bully orang dan suka nyinyir di medsos. Orang suka nyiyir itu kan tabiat. Kalau suka piknik itu hoby. Tu kan. Gak ada hubungannya. Hehe tapi kalau kita hubung-hubungkan sih ada benernya juga, orang yang suka ke lokasi piknik, usilnya bakal bakar berkurang, dia lebih sibuk menikmati keindahan cipatan Tuhan, ketimbang komen-komenan yang gak pernah selesai dan ujung-ujungnya saling bully. Eh saya ngomong apa sih. Padahal mau cerita perjalanan piknik tadi siang kok jadi ngalor-ngidul ke masalah nyinyir sih,hehe.. Baiklah, saya ingin cerita bagaiman perjalanan kami tadi siang ke Bukit Batu Idung di Gerung Lombok Barat.

Jarak antara Kota Mataram dengan Bukit Batu Idung itu deket sih nggak jauh jauh amat. Nggak sampe setengah jam saya memacu motor bersama istri dan anak, saya sudah tiba di areal parkir yaitu rumah penduduk. Kalau mengikuti jalur yang ditunjukkan googlemap, maka jarak antara Mataram, tepatnya di lokasi kampung saya jalan Senopati V Karang Bata Kota Mataram dengan Bukit Batu Idung,  14 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Tidak jauh beda dengan penelusuran saya siang tadi. Perjalanan yang kami lewati setelah jembatan kembar sangat mulus. Meskipun jalan berkelok dan menanjak. Hijau pepohonan dan suasana yang masih sunyi membuat saya merasakan suasana nyaman. Hanya satu dua rumah penduduk yang kami temui. Hijau persawahan, perkebunan dan bukit-bukit yang terhampar adalah hiburan mata dan perasaan. Betapa Allah maha Indah.

Tiba di perkampungan yang bertulisakan Gerbang Bukit Batu Idung yang dibuat dengan tulisan sederhana, saya dan keluarga bergegas masuk. Saya awalnya mengira bahwa destinasi wisata yang viral di medsos ini telah dikelola dengan baik oleh pemerintah. Sampai dilokasi, ternyata bukan fasilitas yang dibuat pemerintah tapi masih dikelola secara swadaya oleh warga. Tempat parkir yang ada, hanya inisiatif warga sekitar bukit. Rumah-rumah warga menjadi tepat atau  menerima jasa parkir kendaraan para wisatawan lokal seperti kami. Saya sempat nanyain seorang penjual air mineral dan snack di pematang sawah menuju puncak bukit Batu Idung. Katanya, Batu Idung mulai ramai pengujung sejak setahun yang lalu sejak para pegiat paralayang naik dan terbang dari bukit itu.” Banyak juga para pegiatn paralayang asal Sembalun datang ke sini, mereka bawa strobery “ katanya sambil melayani kami dengan ramah.

Melalui perjalanan yang menanjak saya dan keluarga akhirnya tiba di Bukit Batu Idung yang fenomenal itu. Memang indah ternyata. Di arah barat kita bisa  melihat pelabuhan Lembar dan kapal-kapal besar yang sedang bersandar. Dikejauhan juga tampak gili-gili yang berderet di sekitar sekotong. Kalau tak salah lihat ada gili Kedis, Gili Sudak, Gili Tangkong dan gili lainnya. Sementara di timurnya kita bisa melihat kota Gerung. Dari kejauhan tampak pula kota Mataram dengan gedung-gedung tingginya. Kita bisa menatap keindahan sepanjang pantai Lombok Baear dari Sekotong hingga Senggigi. Kereen pokoknya. Tidak sah kita naik dibukit Batu Idung kalau tidak berpoto selfie di Batu Besar, Kursi panjang atau di tulisan Batu Idung yang terpasang di atas ayunan.

Di bukit ini juga sudah ada penjual makanan dan air minum. Jadi nggak ribet bawa air ke atas. Ada berugak panjang, ada juga sedikit tanah lapang tempat orang yang ingin menggelar tenda dan berkemah. Saat turun saya nyasar ke tempat parkir yang lain. Karena saya dilihat kebingungan. Warga kampung menanyai sambil senyum. Dengan ramah mereka menunjukkan saya di mana kami naik dan tempat memarkir kendaraan. Rupanya, bukit Batu Idung bisa dijangkau lewat banyak jalur. jalur yang kami naiki adalah salah satunya. Nanti kalau kalian naik, jangan lupa jalur naiknya ya ! biar gak "tersesat" kayak saya.. heheAyo ke bukit Idung. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru