Gerung dalam mitos Rensing

Kembalikan Surgaku 2

Keyakinan Mahesa terhadap Mitos dan Legenda tentang Gerung, (Nama Sebuah Pemandian) di tibujae Desa Rensing Tentang adanya lampit (Sejenis Makhluk Berbentuk Kain Panjang Yang berpintal) yang bisa melilit manusia yang mengganggu istirahatnya, dikala kecilnya sangat ia percayai terlebih dikala itu apapun yang disampaikan oleh orang-orang tua adalah kebenaran bagi mahesa dikala itu.

Gerung adalah sungai yang terbentuk secara alami dari aliran air yang tidak pernah putus, memanjang dari utara keselatan. di bagian utara terdapat bukit batu memanjang dari barat ketimut dan terbelah atau terpotong karena aliran air, dari potongan itu tercipta palung akibat derasnya air yang mengalir dari hulu sehingga mengikis tanah dan bebatuan sehingga membentuk kolam yang berukuran sepanjang limabelas meter kesamping, sedang bebukitan disekitar yang tidak terkikis tinggal sebagai persawahan dan perkebunan bagi warga sekitar.

Lampit yang diyakini warga ketika mahesa kecil sering diceritakan akan datang apabila anak-anak tidak mau berhenti mandi atau naik dari kolam apabila semua anak-anak sudah pulang, begitu kenang mahesa. dibagian sebelah barat bukit batu terdapat sebuah lobang dengan diameter selebar delapan puluh centimeter yang terus kebawah dan tembus di otak-otak (ujung kolam bagian utara pangkal aliran air) Lubang itu sudah tertimbun lumpur semenjak duapuluh tahun silam dan kini hanya tinggal bentuknya saja kenang mahesa yang hampir tidak dapat menahan bening air matanya.

Bukit batu bila diamati mirip seekor binatang tunggangan raksasa yang sedang tertidur terlalu lama hingga membatu karena tidak mengetahui tuannya yang meninggal dalam pertapaanya, hal ini bisa di lihat dibagian sebelah timur terdapat batu lebar tempat dahulu warga yang turun dari persawahan menyucikan diri dan melakukan sholat di mushalla pinggir sungai bersama lingkok yang ada disebelah sisinya.

Waktu mahesa kecil dia sering mandi sebelum berangkat kesekolah kemudian datang warga desa sekitar memandikan kuda mereka di otak-otak dengan cara di tuntun, kuda tersebut berjalan menuju palung kolam yang dalam hingga kuda yang berukuran tinggi melebihi badan mahesa hanya nampak tinggal kepalanya saja yang tidak tenggelam. kenang mahesa sambil berlalu. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru