Gili Petagan "Amazon" dari Lombok Timur


Menyusuri tempat asing yang sama sekali belum pernah kita jamah, memiliki senasi berbeda. Ada rasa penasaran, ada rasa senag, kadang muncul rasa rasa takut kalau-kalau ada binatang asing tiba-tiba muncul. Perasan campur baur itulah yang muncul saat saya mengunjungi Gili Petagan kemaren bersama kawan-kawan. dari Mataram.

Berangkat dari Mataram ba’da Zuhur, saya dan teman-teman meluncur menuju Lotim. Rutenya dari Mataram, Masbagik, Aikmel, Labuhan Lombok dan belok kea rah utara pelabuhan Gili Limpau menuju Gili Petagan. Kalau anda berminat naik saja angkutan umum menuju Labuhan Lombok lalu cari angkutan yang mengantar ke kawasan Gili Lampu. Di pantai gili Lampu terdapat banyak nelayan yang bisa mengantarkan kita menuju gili Petagan. Nelayan mengambil upah mengantar dan meminjamkan alat snorling. Perahu yang saya tumpangi, menyiapkan 3 snorkel dan meminta ongkos Rp. 525.000. biaya sebesar itu akan menjadi murah jika kita berangkat bersama 5 sampai sepuluh atau dua belas orang.

Gili Petangan memang bukan tujuan saya satu-satunya. Tapi saya ingin cerita sedikit soal gili Petangan. Untuk menjelajahi Gili dengan kumpulan bakau yang indah ini kita harus menunggu saat air laut tidak surut. Jika air laut surut maka bisa dipastikan perahu yang kita tumpangi akan kandas. Pemandu bisa menjelaskan kapan air laut tidak surut dan kita bisa menjelajah.    Gili Petagan, bersebelaha dengan gili Bidara dan Pulau Pasir atau Gili Kapal, terkenal dengan hutan bakaunya yang merupakan peninggalan dari pendudukan Jepang yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Lombok Timur. Hutan Bakau ini sekarang dikelilingi Padang Lamun dan terumbu karang yang indah. Padang Lamun adalah padang rumput yang tumbuh di dalam laut. Dalam perjalanan menuju Gili Petagan, kalian bisa menyaksikan betapa birunya air laut. Warna biru tersebut menandakan perairan dalam.

Saat kita pertama kali memasuki kawasan konservasi bakau ini, perasaan deg-degan antara penasaran dan takut kalau-kalau tiba-tiba ada binatang liar yang sembunyi di balik bakau. Terus terang memasuki lorong bakau seperti di film-film horror barat yang menceritakan hutan Amazon dengan ikan piranhanya. Saat pemandu menceritakan bahwa kawasan tersebut aman-aman saja, barulah saya merasa lega. Saya bahkan turun untuk berphoto di hutan bakau Gili Petagan.

Dari kawasan hutan bakau kita bisa melihat pemandangan indah di sebelah barat. Gunung Rinjani tampak gagah menjulang. Pemandangan biru hijau Rinjani serasa menyegarkan mata. Di gili Petagan kita menghirup udara nan bersih sambil memmandangi ikan-ikan kecil bermain di perairan dangkal. Menyusuri lorong bakau, kami menemukan areal luas seperti danau di tenghanya. Di “danau” yang dikelilingi pohon bakau ini terdapat bakau-bakau yang terpisah dan tumbuh di tengahnya. Menakjubkan. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru