Gua Urif dan Pengkereman Dewi Anjani


KM. Sukamulia – Siapa yang tidak kenal gunung Rinjani, gunung yang nobatkan sebagai gunung tertinggi ketiga di Indonesia dengan ketinggian 3.726 MDPL. Selain terkenal dengan ketinggian dan keindahannya, gunung yang menjulang di atas tanah Lombok ini juga dikenal sangat mistis dan menyimpan banyak misteri. Terkait dengan hal itu, masyarakat Lombok mempercai banyak tempat di sekitar gunung Rinjani yang menyimpan nilai mistis sehingga banyak diantara mereka yang datang ke tempat itu untuk tujuan bertafakkur atau bermeditasi. Salah, satu tempat yang dipercayai mimiliki nilai mistis yang tinggi adalah Gua Urif yang berada di sekitar kaldera Segara Anak.

Gua Urif atau gua kehidupan dipercayai sebagai tempata Dewi Rinjani melakukan mediatasi dan telaga yang berada di dalam gua itu dipercayai sebagai tempat berendamnya oleh sebab itu masyarakat Sasak menyebut-nyebut Gua Urif sebagai Pengkereman Dewi Anjani (tempat berendamnya Dewi Anjani). Hal inilah yang kemudian membuat banyak orang lokal (Lombok) mengunjungi gua ini untuk bermeditasi dengan harapan supaya bisa bertemu dengan Dewi Anjani atau yang terkenal disebut dengan nama Dewi Rinjani.

Selain untuk kepentingan bermeditasi, gua ini juga sering dikunjungi untuk kepentingan berobat sebab air telaga Pengkereman Dewi Rinjani dipercayai dapat menembuhkan berbagai macam penyakit. Oleh sebab itulah para pengunjung selalu menyempatkan diri untuk berendam di dalam telaga yang berada di dalam gua tersebut. Lalu mengapa gua yang satu ini disebut dengan nama Gua Urif ?, mau tau… mari kita ke TKP, heheeee.

Menurut keterangan para tetua adat yang ada di wilayah Kecamatan Sembalun dan Bayan, gua ini disebut dengan nama Gua Urif karena air telaga yang berada di dalam gua itu dapat mengobati berbagai macam penyakit. Namun kisah awal yang menjadikan gua ini disebut-sebut sebagai Gua Urif (gua kehidupan) adalah kisah Doyan Neda atau yang dikenal juga dengan nama Doyan Medaran atau orang Lombok Timur sering menyebutnya dengan nama Temelak-Melak Mangan.

Dikisahkan pada zaman dahulu kala, di tanah Lombok hiduplah seorang Pengulu Alim yang mempunyai seorang anak laki-laki yang sejak di dalam kandungan memiliki sifat-sifat keajiban. Konon anak itu dikandung dalam waktu empat tahun. Saat anak itu dilahirkan, ia langsung bisa berjalan dan berbicara dengan bahasa yang pasih. Hanya saja anak itu, memiliki sifat yang menyebabkan ayahandanya merasa malu. Anak itu sangat rakus, dikisahkan bahwa anak itu bisa menghabiskan satu hingga dua bakul nasi. Sifatnya itulah yang kemudian menyebabkan ia dipanggil dengan nama Doyan Neda atau Doyan Medaran.

Sifat Doyan Neda yang sangat rakus membuat ayahnya malu dan sangat membencinya. Atas kebencian itu, Pengulu Alim berusaha sekuat mingkin untuk membunuh anaknya. Berbagai cara ia lakukan supaya Doyan Neda mati namun untungna anak yang memiliki keanehan itu dilindungi oleh Dewi Anjani. Konon Dewi Anjani mengutus seekor burung yang dikenal dengan nama Manuk Berik atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nama Burung Kecil untuk terus mengawasi keberadaan Doyan Neda.

Dalam melancarkan misinya, Pengulu Alim beberapa kali mengalukan usaha untuk membunuh Doyan Neda. Hal yang paling ekstrim yang dilakukan oleh Pengulu Alim adalah menimpakan batu dan pohon besar kepada anaknya sehingga tubuh Doyan Neda hancur berantakan. Dikisahkan bahwa saat tubuh Doyan Neda hancur berantakan, Dewi Anjani memercikkan Banyu Urif ke sekujur tubuh Doyan Neda dan dalam seketika tubuh Doyan Neda kembali seperti semula dan ia-pun hidup kembali dan pulang membawa batu dan pohon besar yang menimpa tubuhnya. Dan dikisahkan bahwa Banyu Urif yang dipercikkan ke tubuh Doyan Neda itu adalah air yang diambil dari Telaga Banyu Urif yang berada di dalam Gua Urif.

Kisah di atas-lah yang kemudian membuat masyarakat Sasak yang berada di sekitar wilayah Sembalun dan Bayan percaya bahawa Gua Urif adalah tempat meditasi yang sekaligus merupakan tempat mandinya Dewi Anjani. Itu pula yang menyebabkan masyarakat sekitar percaya bahwa air Telaga Banyu Urif dapat mengobati berbagai macam penyakit. Atas kepercayaan itulah sehingga masyarakat sekitar kerap mengunjungi Gua Urif untuk tujuan meditasi dan kepentingan berobat.

Saat ini Gua Urif bukan hanya dikunjungi oleh masyarakat sekitar saja, namun banyak pula wisatawan luar daerah yang berkunjung untuk kepentingan wisata, kepentingan meditasi dan kepentingan berobat. Ya,,, namanya saja kepercayaan dan mitologi yang belum tentu kebenarannya, hanya saja orang-orang yang sudah berkunjung ke tempat ini memiliki berbagai macam cerita, sesuai dengan pengalamannya ketika berkunjung ke lokasi. Namun yang jelas, hanya Allah yang mempunyai kekuasaan untuk menyembuhkan segala macam penyakit dan air Telaga Banyu Urif merupakan salah satu media yang digunakan sebaga Allah untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menyembuhkan penyakit orang-orang yang diridhoi dan dikasihi-Nya.

Terlepas dari mitologi dan kepercayaan di atas, tujuan utama tulisan ini adalah untuk memperkenalkan Gua Urif sebagai salah satu tujuan wisata alam yang berada di sekitar wilayah Gunung Rinjani, terutama di sekitar kaldera Sagara Anak. Melakukan perjalanan wisata ke tempat ini cukup mengasikkan kok sebab Gua Urif menyimpan destinasi wisata yang tidak kalah menarinya dengan tempat wisata lainnya yang berada di sekitar wilayah Gunung Rinjani. Oleh sebab itu, sangat rugi jika anda tidak berkunjung ke Gua Urif pada saat anda berwisata di Danau Sagara Anak. Oesssssss, promosi dikit… ga papa kan ?

Dari tadi penulis hanya bercerita mengenai mitologi, mungkin pembaca penasaran akan dimana lokasi Gua Urif yang penuh cerita itu. Penasaran nich, ayooo kalau penasaran maka simaklah informasi berikut ini, heeeee.

Gua Urif berada di sebelah selatan Gua Payung dan Gua Susu. Bagi kawan-kawan yang sudah membaca artikel yang berjudul Gua Payung “Sumber Air Bimineral” maka ia tidak akan kebingungan untuk mencari lokasi Gua Urif. Sekali lagi, Gua Urif berada di sebelah selatan Gua Payung, jika anda berkenan untuk melakukan perjalanan wisata ke tempat tersebut maka dari Gua Payung anda harus melakukan perjalanan ke arah selatan dengan melalui jalan setapak sepanjang 500 meter, dekat kan ?. Jika anda berangkat dari Gua Payung maka anda harus menempuh perjalanan selama 20 hingga 30 menit.

Perjalanan menuju gua ini asyk banget sebab jalan yang dilalui sanagt teduh karena di sekitar lokasi Gua Urif terdapat hutan cemara yang cukup rindang. Jalannya juga turunan sehingga anda tidak terlalu menghabiskan banyak tenaga untuk sampai di lokasi itu. Pokoknya berwisata ke Gua Urif sangat mengasikkan dan membuat otak kita fres sehingga kita lupa akan segala kesibukan dan masalah yang tadinya menjejali otak kecil kita. Penasaran ?, ya kalau penasaran maka bermain-mainlah ke Taman Nasional Gunung Rinjani dan kalau sudah samapai di Sagara Anak maka arahkanlah kaki anda untuk berjalan menuju Gua Urif.


Kita lanjutin ceritanya yach… Gua Urif memiliki bentuk yang cukup unik, mulut gua ini sangat sempit. Gua yang dikatakan sangat mistis ini memiliki dua buah mulut, mulut utamanya berukuran lebar 90 cm dengan tinggi antara 20 cm sampai 65 cm. Mulut utama gua ini menyerupai orang yang sedang duduk dengan posisi kaki terjulur (Bekelojo : bahasa Sasak), perhatikan saja gambar di samping dengan seksama. Karena mulut gua begitu kecil maka setiap pengunjung yang hendak masuk dengan posisi tiarap. Menurut kepercayaan orang sekitar (Sembalun dan Bayan), mulut utama ini hanya digunakan untuk masuk saja dan jika pengunjung hendak keluar maka ia harus melalui pintu keluar, yakni mulut gua yang berada di sebelah utara mulut utama tersebut.


Mulut gua yang satunya lagi biasa disebut dengan istilah Lawang Sugul (pintu keluar), seperti yang terlihat di belakang tempat duduk kami pada poto di samping. Bentuk mulut gua yang satunya ini agak berbeda dengan mulut utama. Mulut gua yang kedua ini berbentuk vertical dengan lebar 30 cm – 40 cm dengan tinggi 120 cm. Mulut gua ini cukup sempit namun bagaimanapun besar badan seseorang, pati ia bisa keluar dari sana. Hal inilah yang kemudian menyebabkan para ahli tarikat dan ilmu kebatinan mempercayai bahwa Gua Urif adalah gambaran dari Gua Hiro yang ada di tanah Mekah. Mereka juga mempercayai bahwa mudah atau sulitnya seseorang keluar dari pintu gua itu tergantung dari kesuciannya, artinya apabila ia memiliki banyak dosa di dalam kehidupannya maka ia akan kesulitan untuk keluar dari pintu/mulut gua itu dan demikian pula sebaliknya.

Meskipun mulut gua sangat kecil, tetapi ruang gua ini lumayan besar. Dimana ruangan gua ini cukup untuk tempat duduknya 20-an orang. Mulut gua yang kecil juga menyebabkan kondisi ruangan gua agak gelap namun kita masih bisa melihat penampakan relief dalam gua dengan samr-samar. Supaya pengunjung dapat melihat suasana relief dalam gua maka pengunjung harus membawa senter atau lilin sebagai penerang.


Bagian dalam gua ini cukup mempesona, reliefnya seolah-olah sengaja dibentuk dengan sedemikian rupa. Sungguh, Allah Maha Kuasa menciptakan Gua Urif dengan segala keunikannya. Pada bagian barat (kiblat) terdapat tempat duduk yang sepertinya sengaja dibuat-buat oleh manusia, tempat duduk itu menyerupai sebuah singgasana dan konon di sanalah tempat pertapaan Dewi Anjani. Dinding gua ini cukup tinggi sehingga pengunjung bisa bergerak bebas di dalam gua, ketinggian dindingnya mencapai 2,5 meter dengan luas ruangan sekitar 4 m x 6 m. Pada bagian bawah dinding gua tidak terlalu banyak stalakmit sehingga pengunjung bisa duduk dengan posisi yang nyaman. Dinding-dinding gua ini berwarna putih kekuning-kuningan sebab dinding tersebut merupakan hasil bentukan dari mineral yang dikandung oleh air yang terkujur dari bagian stalaktit gua.


Di bawah dinding gua sebelah utara, terdapat sebuah telaga dengan air yang sangat jernih. Air telaga ini juga sangat enak sebagai tempat berendam dan memanjakan badan sebab airnya agak hangat pada siang hari, namun pada pagi dan sore hari air telaga ini cukup sejuk. Pokoknya kalau kita sudah masuk di dalam telaga itu, kita akan merasa betah untuk merendamkan badan. Telaga inilah yang disebut dengan nama telaga Banyu Urif (Air Kehidupan) yang konon air inilah yang digunakan untuk mengobati badan Doyan Neda yang hancur akibat tertimpa batu dan pohon besar. Telaga ini pula yang dipercayai sebagai tempat berendamnya Dewi Anjani (Pengkereman Dewi Anjani : Bahasa Sasak).

Telaga Banyu Urif berukuran panjang sekitar 160 cm dengan lebar lebar sekitar 85 cm dan kedalamannya sekitar 160 cm. Dengan ukuran tersebut, telaga ini hanya cukup untuk 4 orang dengan posisi berdiri. Jiaka jumlah pengunjung yang masuk gua lebih dari 4 orang maka ia harus sabar berantri menunggu bagian untuk merendamkan badan di dalam telaga. Air telaga ini juga enak diminum sebab kandungan belerangnya tidak terlalu tinggi. Sebagai tambahan informasi, bagi para penggemar dan kolektor keris pusaka maka di sinilah tempatnya menyelesaikan ritual supaya tenaga mistis yang menghuni kerisnya tetap terjaga dan pusakanya semakin mempuni.

Masuk ke dalam Gua Urif memiliki aturan tersendiri, memang gua ini tidak memiliki skuriti atau penjaga dari unsure Dinas Pariwisata, namun gua ini dijaga oleh makhluk gaib. Konon di depan mulut gua terdapat seorang penjaga yang berjubah putih dengan postur tubuh yang cukup atletis. Jika pengunjung gua ini macam-macam maka penjaga itu akan memarahinya, bisa saja dengan cara dirasuki atau dihantui. Suer, penulis pernah dimarahi oleh penjaga tersebut dan pada saat kami berkunjung pada tanggal 17 Agustus 2015 lalu, dua orang teman penulis kerasukan karena tidak mematuhi aturan berkunjung ke gua tersebut. Percaya atau tidak namun makhluk alam astral juga harus kita imani (percayai) keberadaannya.


Aturan masuk kegua itu adalah: 1) setiap pengunjung yang masuk gua harus menggunakan kain putih, sapuk atau ikat kepala putih, ikat tangan berwarna putih, 2) masuk tidak boleh menggunakan alas kaki, 3) setiap pengunjung yang gua diharuskan mengucapkan salam dan bersalawat kepada baginda Nabi Muhammad pada saat masuk, 4) melakukan dzikir dan doa ketika berada di dalam gua, 5) ketika berada di dalam gua, pengunjung tidak boleh bermain-main atau mengucapkan kata-kata senonoh, 6) apabila pengunjung hendak membawa air telaga Banyu Urif maka pengunjung harus meminta izin terlebih dahulu, dan 7) setelah keluar dari gua, pengunjung harus menaruh kain putih yang dipakainnya pada tempat dima pakaian itu diambil.

Oya, jika anda tidak membawa kain putih, ikat kepala putih dan ikat tangan putih dari rumah maka anda bisa menggunakan kelengkapan yang sudah tersedia di depan gua namun setelah selesai maka anda harus menaruhnya kembali pada tempatnya semula.

Pencinta Kampung Media NTB yang budiman, demikianlah segelumit informasi yang dapat penulis tuturkan di dalam artikel kali ini. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah serta magfirahnya kepada kita sekalian. Semoga pula informasi ini bermanfaat bagi siapa saja yang sempat membacanya. Terimakasih atas kunjungan anda dan Salam dari Kampung.

_By. Asri The Gila_ [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru