Gua Payung, Sumber Air Bikarbonat


KM. Sukamulia – Sebagaimana telah diceritakan pada artikel sebelumnya, di wilayah kaldera Sagara Anak terdapat beberapa sumber mata air panas dan salah satunya adalah Gua Payung atau dalam bahasa inggris disebut dengan nama “Payung Cave”. Gua ini disebut dengan nama Gua Payung karena bentuknya yang menyerupai paying dengan ketinggian kurang-lebih 10 meter dan luas sekitar 3 meter. Selain bentuknya yang menarik, di dalam Gua Payung juga terdapat sumber mata air Bikarbonat yaitu sumber mata air panas yang mengandung sulfur (belerang).

Sumber mata air Bikarbonat tersebut yang kemudian membuat pengunjung tertarik untuk mengunjungi Gua Payung. Gua ini berada sekitar 750 meter di sebelah utara kaldera Seger Anak. Jika kita ingin berkunjung ke Gua Payung maka kita harus berjalan menyusuri jalan setapak yang terletak pada bagian bawah tebing Gunung Sangkareang. Perjalanan menuju lokasi gua cukup asyk sebab perjalanan menuju lokasi tersebut melewati jalan setapak yang bagian kiri kannya merupakan padang ilalang dan banyak pula bunga Edelways yang tumbuh di sekitar jalan setapak tersebut.

Perjalanan menuju lokasi Gua Payung juga tidak membutuhkan tenaga yang besar sebab jalan setapak menuju lokasi tersebut adalah turunan. Namun demikian pengunjung harus berhati-hati saat melakukan perjalanan sebab jalan yang dilalui merupakan jalan setapak yang konstruksinya adalah bebatuan licin, apalagi ketika musim hujan. Sekitar 300 meter dari lokasi, pengunjung harus melewati hutan cemara yang cukup rindang dan teduh. Kicauan burung dan suara angin yang berdentuman diantara tebing Gunung Rinjani dan Sangkareang juga memperindah suasana.

Setelah melalui hutan cemara, pengunjung akan bertemu dengan jalan setapak yang di kiri kanannya ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan liar.
Nah,,, saat melalui jalan ini, pengunjung harus berhati-hati sebab di sekitar jalan setapak tersebut terdapat tumbuhan liar yang cukup berbahaya. Jangan sampai pengunjung memegang pohon atau daun tumbuhan tersebut sebab jika pengunjung menyentuh pohon atau daun tumbuhan tersebut maka kulit akan teras terbakar dan rasanya sangat gatal. Orang-orang Sambik Elen Kecamatan Bayan dan orang-orang sembalun menyebut tumbuhan tersebut dengan nama Jelateng Gunung. Jika diperhatikan dari segi morpologi, tumbuhan ini merupakan family dari tumbuhan Jelateng yang umumnya tumbuhan Jelateng merupakan tumbuhan beracun yang bisa menyebabkan kulit orang yang menyentuhnya terasa gatal. Hanya saja, family Jelateng yang satu ini sangat berbahaya sebab kandungan racun pada daun dan pohonnya sangat kuat sehingga menyebabkan kulit orang yang menyentuhnya terasa sangat gatal dan terbakar.

Menurut keterangan Amaq Sandi (32 tahun), jika kita terkena oleh daun atau pohon Jelateng Gunung maka kita tidak perlu panik dan menggaruk-garuk atau mengelus-elus bagian tubuh kita yang terkena oleh bagian pohon tersebut sebab jika bagian yang terkena itu digaruk atau dielus-elus maka rasa gatal dan panasnya akan semakin mengembang ke bagian tubuh yang lainnya sehingga kulit akan kelihatan membiru karena mengelus-elus atau menggaruk bagian yang terkena itu sama artinya dengan kita melacarkan laju pergerakan racun melalui laju darah kita. Oleh sebab itu, jika anda terkena oleh bagian pohon Jelateng Gunung maka cuekin saja, jangan sampai disentuh dan diperhatikan dengan demikian rasa gatal dan panasnya akan hilang dengan sendirinya, ya paling-paling rasa gatal dan panas itu akan kerasa hanya dalam hitungan kurang dari satu menit. Tegas seorang Guide Gunung yang berasal dari Dusun Bawak Nao Desa Sajang Kecamatan Sembalun itu.

Heheee,,, ada-ada saja ya, tapi percaya-tidak percaya demikianlah kenyataannya sebab penulis juga pernah terkena oleh tumbuhan tersebut. Sungguh, terkena bagian pohon akan membuat kulit terasa gatal dan sangat panas dan sebelum Amaq Sandi beberi tahu penulis tentang hal itu maka penulis merasakan rasa gatal dan panas yang cukup menyiksa sehingga bagian badan penulis yang terkena membiru dan kelihatan seperti bekas luka bakar. Untungnya, Amaq Sandi menceritakan penulis tentang cara menghadapi serangan racun tumbuhan tersebut sehingga pas penulis terkena keduakalinya, penulis tidak menahan rasa panas dan gatalnya tanpa menyentuh bagian yang terkena dan al-hasil, penulispun hanya merasakan gatal dan panas akibat racun tumbuhan itu dalam waktu yang tidak begitu lama.

Demikianlah tanbahan informasi bagi kita semua, terkait dengan perjalanan menuju Gua Payung. Masih penasaran dengan destinasi Gua Payung ?. Kalau masih penasaran, mari kita lanjutkan ceritanya, heheheee.


Setelah melaluai jalan setapak yang berjarak sekitar 750 meter dengan jarak empuh sekitar 1 jam, maka sampailah kita di sekitar lokasi Gua Payung. Di sekitar lokasi ini terdapat beberapa titik mata air panas yang berupa telaga-telaga kecil. Telaga-telaga kecil tersebut memiliki tingkatan panas yang berbeda-beda satu sama lainnya. Setidaknya terdapat 11 titik mata air panas yang berjejer di sekitar lokasi Gua Payung. Mengenai 11 Sumber Mata Air Panas tersebut, insyallah akan penulis ceritakan pada artikel berikutnya.

Sumber mata air yang paling panas terdapat pada bagian dalam Gua Payung. Dimana di dalam Gua Payung terdapat sebuah pancuran Air Panas yang disebut dengan nama Pancuran Kalaq Waja. Disebut dengan nama Pancoran Kalaq Waja sebab air yang mengalir dari pancuran ini sangatlah panas (diperkirakan lebih dari 100 derajat celcius). Air Pancuran ini keluar dari sela-sela dinding gua. Menurut cerita yang beredar pada kalangan masyarakat Sembalun dan Bayan, air pancoran ini biasa digunakan sebagai tempat mengetes kekuatan besi yang digunakan sebagai bahan pembuatan senjata pusaka, baik yang berupa keris, pedang, ataupun mata tombak yang dalam bahasa sasak disebut dengan Memaja atau Waja. Itulah sebabnya pancoran air panas ini disebut dengan nama Pancoran Kalaq Waja.


Amaq Awaludin menceritakan bahwa pada zaman dahulu, sesepuh masyarakat Sasak atau para pendekar Sasak mengetes kekuatan senjata pusaka mereka dengan memandikannya di Pancoran Kalaq Waja. Apabila logam yang digunakan untuk membuat senjata pusaka itu tidak bagus maka senjata tersebut akan lentur atau bahkan meleleh sebab panasnya air pancuran tersebut dan apabila logam yang digunakan untuk membuat pusaka tersebut betul-betul baik dan senjata tersebut diisi dengan kekuatan supranaturan yang tinggi maka senjata itu akan tetap dalam keadaannya. Sungguh luar biasa, ya,,, secara logikanya logam akan melelh apabila mendapatkan panas yang sangat tinggi. Jadi cerita yang dipaparkan oleh laki-laki yang berprofesi sebagai Porter ini cukup masuk akal.

Hal itulah yang kemudian membuat orang-orang Sembalun dan Bayan atau bahkan orang-orang Lombok Tengah dan Lombok Barat yang mempercayai cerita atau mitologi tersebut kerap mendatangi Gua Payung dengan tujuan untuk memandikan (Nyepuk: bahasa Sasak) senjata pusaka yang mereka miliki. Di sana pula mereka mengetes kekuatan logam dan kekuatan supra naturan yang terkandung di dalam senjata pusakanya.

Di dalam Gua Payung juga terdapat sebuah terowongan yang bentuknya vertical. Trowongan ini berukuran tinggi sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 80 cm. Di dalam terowongan tersebut terdapat Sumber Air Bikarbonat yang muncul di permukaan dan membentuk membentuk sinter karbonat (CaCo3). Air Bikarbonat tersebut muncul dari pinggir terowongan dengan berupa tetesan-tetesan air panas yang kemudian menyebabkan terowongan tersebut dipenuhi dengan uap yang hangat. Oleh sebab itulah, para pengunjung memanpaatkan terowongan ini sebagai tempat mandi uap dengan tujuan untuk membersihkan organ tubuh bagian dalam dari racun-racun yang bersarang di dalam tubuh mereka.

Mandi uap ini di dalam terowongan tersebut hanya bisa dilakukan dalam hitungan menit (2 hingga 6 menit) sebab di dalam terowongan tersebut terdapat kandungan Oksigen (O2) yang sangat kurang. Oleh sebab itu, para pengunjung tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan di dalam terowongan tersebut. Apa bila nafas sudah terengah atau sesak maka segeralah keluar dari terowongan tersebut sebab tidak jarang pengunjung yang pingsan di dalam terowongan karena ia memaksakan diri untuk bertahan di dalam terowongan.


Perlu diketahui bahwa Air Bikarbonan yang terdapat di Gua Payung terbentuk pada daerah pinggir dan dangkal pada system geothermal. Bagia permukaan bagian bawah gua yang dialiri oleh Air Bikarbonat iniah yang kemudian membentuk bagian dasar Gua Payung terlihat seperti sisik naga dengan warna putih kekuning-kuningan. Hal inilah yang membuat Gua Payung terlihat sangat mempesona, bagaikan hamparan permadani yang sengaja digelar sebagai alas dari singgasana seorang raja.

Situs Geopark Rinjani memang sangat kaya dengan pesona sehingga tidak mengherankan jika situs Geopar Rinjani rata-rata dijadikan sebagai situs Wisata Alam yang sangat gemar dikunjungi oleh wisatawan lokal ataupun wisatawan manaca negara, termasuk Gua Payung yang penulis ceritakan pada artikel kali ini.

Selain dijadikan sebagai situs wisata alam, Gua Payung juga kerap digunakan sebagai tempat mediatasi. Terutama bagi masyarakat Lombok dan masyarakat Indonesia yang masih gemar mempelajari ilmu mistis atau ilmu kanuragan. Banyak pula murid-murid dari padepokan Tarekat Sasak yang melakukan meditasi di tempat ini sebab mereka percaya bahwa bermeditasi di Gua Payung sangatlah baik karena tempatnya sangat tenang dan terlepas dari hiruk pikuk keramaian.

Menurut informasi yang penulis dapatkan dari beberapa orang narasumber, Gua Payung dipercayai sebagai singgasana atau tempat persemedian Dewi Rinjani sebab itulah suasana di dalam gua ini terasa mengandung kekuatan mistis yang cukup tinggi. Apabila pengunjung berada di dalam gua maka pengunjung diharuskan untuk melakukan dzikir di mulut gua dan selama di dalam gua, pengunjung tidak boleh bermain-main atau mengeluarkan kata-kata senono karenan itu akan menyebabkan hal yang patal baginya.

Demikianlah segelumit informasi yang dapat penulis deskripsikan pada bagian kali ini, insyallah penulis akan menceritakan tentang situs lain yang ada di sekitar Kaldera Sagara Anak pada artike berikutnya. Semoga artikel kali ini dapat menjadi tambahan informasi mengengenai Destinasi Wisata Gunung Rinjani bagi para pembaca. Kurang dan lebihnya penulis mohon maaf dan Salam dari Kampung.

_By. Asri The Gila_ [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru