Bule Jerman Panjat Kelapa

Tamu yang berkunjung ke Desa Masmas kali ini ternyata sangat beda dari tamu-tamu sebelumnya, dimana tamu yang kali ini  adalah berasal dari Jerman yaitu Jonas dan Lea Jakob lebih agresif, semua yang dia lihat pingin dia coba, termasuk ketika Ia melihat warga sedang memanjat Pohon Kelapa, Ia ngotot minta diijinkan memanjat, beruntung pemilik pohon kelapa sedang berada di lokasi, sehingga Ayu Payani dan Nurul Aini yang kebetulan mendapat giliran untuk menjadi guide local hari itu tidak kesulitan memintakan izin.


Begitu jonas tau dirinya sudah mendapat restu dari pemiliknya, Ia langsung saja memanjat  tanpa melepas sepatu yang di kenakan, dan sudah tentu ia tidak bisa memanjat dengan baik, akhirnya ia turun untuk melepas sepatunya lalu mencoba naik lagi, begitu sampai atas Jonas turun dengan sangat riang. Melihat keriangan tersebut sang pemilik kelapapun membolehkan Jonas memetik buahnya. Mendengar itu, Jonas sangat gembira dan diapun bergegas naik lagi lalu memetik dua buah kelapa.

Keduanya sangat bangga dan senang karena telah berhasil memetik sendiri buah kelapa, terutama sekali Jonas karena itu, langsung menjadi hadiah istimewa buat pasangannya yang tidak mungkin bisa dilakukan kecuali di Masmas, karenanya mereka berdua tidak mau melepas buah kelapa tersebut, mereka terus membawanya sepanjang perjalanan hingga Dusun Antakantak tempat mereka berinteraksi dengan warga penganyam ketak juga di kelompok pembuat kerupuk bahkan hingga secretariat tempat dia diperiapkan makan siang oleh istri pengelola yang kebetulan mendapat giliran sebagai penyedia makan siang hari itu.


Setelah selesai makan siang, keduanya meminta disediakan parang, untuk kemudian Lea Jakob yang harus belajar mengupas kelapa tersebut untuk menjadi hadiah bagi pasangannya. Saling beri hadiah istimewapun terjadi di hari itu atas pasangan Jonas dan Lea dari Jerman di Desa Wisata Masmas.

Yang pasti kedua pasangan tersebut tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa senang mereka atas paket yang disediakan di Desa Masmas, bahkan tidak Cuma dengan kata-kata, keduanya juga memberikan tip pada masing-masing guide Ayu Payani dan Nurul Aini termasuk pada Solatiah istri Pengelola yang selaku koky penyedia makan siang hari itu, masing-masing Rp. 300.000 diluar harga perpaketnya. Mereka juga memberikan permen untuk anak-anak yang mereka beli diwarung depan secretariat. Mereka juga berjanji akan berupaya bisa kirimkan ATK dari Jerman nanti setelah mereka pulang untuk anak-anak yang belajar bahasa inggris di Pondok santri yang ada disekretariat VBT juga secretariat Kampung Media.

Yang harus menjadi renungan bagi kita bersama terutama pemerintah Indonesia, kalau orang asing yang melihat segala keterbatasan fasilitas belajar di Indonesia sangat peduli dan mau turun tangan membantu, lalu bagaimana dengan Pemerintah Kita?, Dewan Kita?, orang-orang kaya disekitar kita?. Jangan-jangan mereka keluar negeri membagi-bagi bantuan pada orang-orang kaya disana.

Ironis…………… () -01                                                                                                                         

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru