Gili Kondo Yang Menawan

Gili Kondo merupakan salah satu obyek wisata bahari yang terletak di Desa Padak Guar, Kecamatan Semabalia, Kabupaten Lombok Timur, Propensi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis, lokasi wisata ini berdekatan dengan Gili Bidara yang letaknya pada bagian timur. Pada bagian barat berbatasan dengan laut Sumbawa, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Penida, begitupun juga pada bagian utara berbatasan dengan Kampung Pedagan.

                Nama asli dari Gili Kondo adalah Gili bagik. Gili Kondo yang sebenarnya adalah sebuah gili yang terletak di bagian timur dari Gili Bagik dan berdekatan dengan Gili Kenanga. Karena di Gili Bagik ini ditemukan beberapa pohon yang bentuknya seperti burung kondo, sehingga masyarakat sekitar yang ada di desa Padak Guar menyebutnya sebagai Gili Kondo.

                Luas wilayah kawasan wisata ini adalah kurang lebih 4 (empat) hektar. Para pengunjung dapat berjalan mengelilingi luas welayah ini dengan menyusuri tepi pantai di atas pasir putih. Di kawasan ini tak ada penduduk  menetap, kecuali petugas wisata dan beberapa pedagang yang terkadang menginap  di rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu dan beratap dedaunan.

                Kondisi cuaca di kawasan ini cukup panas, meskipun sejumlah pepohonan yang tumbuh pada bagian pertengahan di kawasan ini. Agar lebih teduh dan sejuk pada pengunjung, pihak pengelelola wisata telah menanam sejumlah pepohonan dan aneka jenis tanaman bunga yang diatur pada bagian tertentu.

                Mengenai fasiltas bagi pengunjung atau wisatawan masih sangat sederhana. Hanya ada beberapa villa atau penginapan yang bahannya dari bambu dan dedaunan.  Sejumlah tempat duduk yang beratap daun telah dibangun oleh pihak pengelola wisata. Café sederhana telah disiapkan kepada para pengunjung, namun hanya menyediakan makanan tradisional dan minuman air panas dan dingin, beserta dengan aneka makanan ringan. Kamar mandi dan toilet yang sangat sederhana turut menjadi fasiltas di tempat ini. Sedangkan untuk komsumsi air bersih, seperti air tawar di kamar mandi sangat terbatas, itupun hanya diambil dari perkampungan seberang yang diangkut melalui perahu. Kebutuhan listrik untuk barang eletronik belum ada, pada waktu malam pun pengunjung yang menginap di tempat ini hanya mempergunakan lampu penerang tradisional yang bahan bakarnya dari minyak tanah.

Bagi pengunjung yang gemar menyelam di bawah laut, mereka dapat melakukan penyelaman untuk melihat kondisi pesona biota laut dan berbagai jenis batu karang. Peralatan menyelam seperti “snowkling” telah disediakan oleh pihak pengelola wisata. Fasilitas untuk kegiatan “daiving” pun juga telah disediakan oleh pihak pengelola, termasuk perahu dan dipandu oleh petugas wisata yang ada di sini.

                Untuk menemukan lokasi wisata ini, pihak pengelola wisata telah menyiapkan sejumlah perahu di seberang, yaitu di Padak Guar. Para pengunjung dapat mempergunakan alat transportasi laut ini dengan hanya membeli tiket penyeberangan antar jemput yaitu sekitar Rp. 30.000 per orang. Perjalanan di atas laut dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Bagi pengunjung yang memakai kendaraan pribadi, dapat memarkir kendaraannya di areal parkiran yang telah disiapkan di tepi pantai Padak Guar atau di tempat penyeberangan yang dijaga oleh petugas parkir.

Munculnya nama Gili Kondo sebagai obyek wisata bahari di sektor kepariwisataan adalah ketika seorang yang bernama Prama yang memiliki pengalaman di bidang kepariwisataan. Prama ketika pertama kali berkunjung di tempat ini, ia pun menemukan beberapa keunikan yang indah dan mempesona di kawasan ini. Dari beberapa keunikan yang ditemukan di kawasan  Gili ini, sangat menyentuh hatinya dan muncullah ide dari seorang Prama untuk mengelola kawasan ini sebagai obyek wisata.Pada tahun 1991, Prama menyediakan sarana dan prasarana sebagai daya tarik pengunjung, seperti penginapan, café, toilet, kamar mandi, tempat istirahat, kamar ganti pakaian, peralatan untuk melihat kondisi alam di bawah laut, dan berbagai fasilitas lainnya.

 Alat transportasi laut atau perahu menjadi bagian dari tugas Prama untuk memperlancar datangnya pengunjung di tempat ini, hingga pada saat itu berbondong-bondong pengunjung untuk mewujudkan rasa penasarannya tentang pesona Gili Kondo yang marak dibicarakan orang. Pengelolaan alat transportasi laut pada waktu itu melibatkan pihak masyarakat sekitar untuk mengoperasikan perahunya dengan system kekerjasamaan.

Agar tercipta kebersihan dan kesrian, serta kesejukan pada obyek wisata ini, sejumlah tempat sampah tersedia di berbagai sudut pantai. Penanaman sejumlah pohon pelindung dan aneka tanaman bunga hias ditata seindah mungkin pada saat kekeuasaan Prama. Salah satu pohon yang jarang ditemukan di daerah lain adalah sebuah pohon kurma yang sampai sekarang masih hidup.

                Sebelum penanaman sejumlah pohon oleh Prama, di gili ini telah ada beberapa pohon yang tumbuh, yaitu pepohonan yang bentuknya  seperti burung kondo. Hanya saja pepohonan ini telah mengalami kerusakan oleh kerasnya angin dan hujan yang lebat, sehingga Gili Kondo pada saat itu terkesan kotor. Dalam pengeloalaan ini, Prama pun membersihkan semua pohon-pohon yang rindang, termasuk ranting-ranting pohon dan dedaunan yang berserakan sampai di tepi pantai. Hingga saat itu Prama menugaskan beberapa karyawannya untuk bertugas di lokasi ini dan membuat peraturan agar para pengunjung menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

                Suatu aturan lain yang dibuat oleh Prama ketika masih menguasai kawasan ini adalah para pengunjung tidak diperbolehkan membawa minuman beralkohol dalam berbagai merek, termasuk minuman beralkohol tradisional dan racikan. Hanya saja Prama bisa bertahan sampai tahun 2013. Dan saat ini kawasan wisata tersebut telah diambil alih oleh pihak pemerintah daerah setempat.

Setelah kawasan Gili Kondo diambil alih oleh pihak pemerintah daerah setempat, fasilitas, keamanan dan peraturan tidak seperti dulu lagi, yaitu ketika masih dipegang oleh Prama. Bukannya pemerintah daerah setempat tidak memperhatikan kawasan wisata bahari ini, namun sarana dan prasaran masih jauh dari apa yang diharapkan. Padahal, obyek wisata bahari gili ini sangat potensial untuk dikembangkan dan dapat menjadi asset besar terhadap pemasukan devisa daerah.

Samsul adalah salah seorang staf desa di Padak Guar yang ditugaskan di tempat ini sebagai pengawas dan pengelelola . Ia pun mengatakan kalau Gili Kondo adalah sebuah lahan emas yang butuh perhatian untuk dikelola. Dalam arti bahawa Gili Kondo meyimpan keunikan-keunikan khas tersendiri yang butuh perhatian dari pihak swasta atau pemerintah khususnya untuk lebih menjadikan kawasan ini sebagai  obyek wisata yang mampu bersaing dengan daerah lain. Samsul menegaskan pula bahwa bila dilihat dari keindahan alam bahari di lokasi ini, jauh lebih indah dan mempesona dibanding dengan alam bahari yang ada di Gili Trawangan. Hal ini disebabkan karena alam bahari di kawasan ini belum terjamah oleh tangan-tangan jahil.

                Keunikan obyek wisata yang berbentuk bulat ini adalah memilki pantai yang bersih, pasir putih yang memanjang terbentang luas dan airnya bersih, bening dan tenang , sangat memikat hati para pengunjung untuk merendam tubuhnya di pantai ini. Keindahan batu karang di dasar laut dengan berbagai bentuk yang jumlahnya sekitar lebih dari 200 jenis dapat dinikmati dengan mempergunakan “snowkling” atau dengan “daiving”. Lebih dari 200 spesies  atau jenis ikan dengan aneka warna dan bentuk tampil menari-nari  nan mempesona di bawah laut. Aneka jenis dan warna trumbu karang yang masih alami nampak menawan. Sungguh indah dan menanbjukkan. inilah surga di bawah laut yang ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah, bahkan wisatawan manca negara pun tak ketinggalan untuk menikmati pesona alam bahari di Gili ini.

Selain aneka jenis ikan dan trumbu karang yang memepesona di alam bahari Gili Kondo, berbagai biota laut lainnya juga dapat ditemukan, seperti tumbuhan laut, misalnya akar bahari, cemara laut, tumbuhan akar buaya, bahkan kuda laut, penyu, ubur-ubur dengan beraneka jenis yang terpadu dengan biasan cahaya matahari, hingga siapapun yang menyempatkan diri untuk melihat pemandangan alam laut di kawasan ini, seolah-olah lupa untuk naik ke darat.

                Untuk menjaga kelestarian lingkungan Gili Kondo, masyarakat  bekerja sama dengan kelompok anak muda untuk bergotong royong melakukan pembersihan di kawasan ini pada setiap bulannya dan menanam sejumlah pohon di daratan gili ini, bahkan setiap pengunjung diharapkan membawa satu pohon untuk menanam di daratan Gili ini kalau kelak nantinya kembali di tempat ini. Untuk keamanan dan pembersihan tepi pantai pada setiap harinya, begitu pun juga dengan penyiraman pohon yang baru ditanam atau pada tanaman bunga, pemerintah daerah setempat atau kepala desa telah menugaskan pada seorang staf desa untuk bertugas di wilayah ini. Sedangkan pada lingkungan laut, masyarakat dengan kelompok  anak muda pada setiap bulannya juga melakukan penyelaman untuk melihat kondisi biota laut, khususnya pada kondisi trumbu karang. Kalaupun ada kerusakan yang terjadi pada trumbu karang , mereka menanam trumbu karang baru sebagai pengganti yang dipandu oleh petugas di kawasan ini dengan melalui system teknologi baru. Dari pihak petugas mengatakan bahwa kerusakan trumbu karang yang ditemukan di kawasan ini, paling 5 % dan itu bukan karena faktor ulah manusia, namun karena faktor alam. [] - 05

                 

                 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru