Menikmati Keindahan Masmas Lewat Tekhnologi


Tidak bisa di pungkiri, bahwa side-effect dari kecanggihan tekhnologi adalah siapa saja bisa mengakses tentang apa saja, yang tidak jarang hal itu berpengaruh pada munculnya gaya hidup bebas, hedonis dan gaya-gaya hidup tidak terfuji lainnya. Namun bersamaan dengan itu juga harus disadari, bahwa kecanggihan tekhnologi sangat membantu terhadap kerja-kerja manusia. Seperti yang dialami oleh para guide local Desa Wisata Masmas kemarin pagi Sabtu, 9 Agustus 2014 ketika mereka menami dua orang tamu asal Prancis Yaitu Christel 60 tahun bersama istrinya Chatelet 50 tahun. Keduanya tidak bisa berbahasa Inggris.

Ketidak bisaan mereka berbahasa inggris dan ketidak bisaan para guide local berbahasa Prancis, ternyata tidak menjadi halangan bagi keduanya untuk menikmati keindahan alam Masmas sambil menanyakan tentang banyak hal yang mereka lihat. Karena di tangan masing-masing tamu tersebut tergenggam sebuah Hp berkelas yang bisa menjadi kamus semua bahasa, sehingga ketika ada yang mereka mau tanyakan atau ada yang mereka ingin ungkapkan sebagai bentuk kekaguman dan kesenangan mereka terhadap aktifitas yang ditawarkan selama tour, masing-masing akan menulis di hpnya dengan bahasa Prancis lalu menyodorkan kepada guide localnya yang sudah tertulis terjemahnya dalam bahasa inggris. Pun juga ketika guide ingin menjelaskan sesuatu tapi keduanya tidak faham, maka salah seorang diantara keduanya akan menyodorkan hpnya kepada salah seorang guide untuk dituliskan dalam bahasa inggris yang kemudian akan keluar terjemahnya dalam bahasa Prancis. Begitulah seterusnya yang mereka lakukan hingga tour selesai.


Saya pertegas lagi, bahwa kecanggihan tekhnologi ternyata membawa manfaat yang banyak sekali. Diantaranya adalah kecanggihan tekhnologi telah membuat dunia ini nyaris tanpa batas, pun juga keterbatasan seseorang terhadap suatu bahasa sama sekali tidak menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dengan sipapun di dunia ini, semuanya berkat tekhnologi. Pantas kalau orang sering bilang, bahwa Pemuda Gaptek (gagap tekhnologi) akan menjadi PKI (Pemuda Kurang Informasi) dan akan Menjadi Kuper (Pemuda Kurang Pergaulan).

Tamu yang hari itu di pandu oleh Ayu Payani dan Nurul Hayati, sangat puas dengan semua paket yang ditawarkan, hal itu tidak Cuma terpancar dari raut muka keduanya yang selalu cerah ceria, tapi juga kelihatan dari proaktif keduanya berkomunikasi dengan warga, yang keduanya tunjukkan dengan membagi-bagikan permen dan coklat kepada anak-anak dan siapapun yang mereka temukan, baik ketika menyusuri persawahan maupun ketika berada di kelompok ketak dan di kelompok pembuat kerupuk bonggol pisang, juga hal itu, keduanya tunjukkan lewat tulisan di buku tamu yang disedikan, dengan menggunakan bahasa inggris yang merupakan kutipan dari kamus hpnya, “thank a lot, It was very great tour in Masmas. Great experience!”.



Tidak cukup dengan itu, keduanya juga menunjukkan kesenangan dan kepuasannya dengan cara menambahkan pembayaran paketnya, yang sedianya mereka harus bayar Rp. 300.000 berdua, mereka genapkan menjadi Rp. 500.000, sementara masing-masing guide dan di setiap destinasi yang dituju keduanya juga memberikan tip masing-masing Rp.100.000, disamping juga keduanya berbelanja cukup banyak, baik di kelompok ketak dan juga di kelompok pembuat kerupuk.

Yang lebih hebat lagi sebagai gambaran kepuasan mereka, adalah keduanya berjanji untuk belajar serius bahasa inggris dan nanti setelah mahir berbahasa inggris, secara khusus keduanya akan kembali ke Desa Wisata Masmas. Dan akan membawa keluarga dan kawan-kawannya. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru