logoblog

Cari

Surga Dibukit Tuwas-was

Surga Dibukit Tuwas-was

Dari pertigaan Desa Pemongkong kecamatan Jerowaru, berbelok kekanan sekitar 1,5 KM kearah barat, tepat diatas bukit yang berjejer memanjang dari arah

Wisata Alam

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
07 Desember, 2019 06:03:38
Wisata Alam
Komentar: 0
Dibaca: 3740 Kali

Dari pertigaan Desa Pemongkong kecamatan Jerowaru, berbelok kekanan sekitar 1,5 KM kearah barat, tepat diatas bukit yang berjejer memanjang dari arah Utara Selatan, berbelok kekanan sebuah papan Plang bertuliskan Makam Tuwas-was.

Kearah pemakaman menurun kemudian menanjaki bukit ysng diapit dua teluk, Teluk Ekas diselatan dan teluk ujung dibagian utara.

Sejarahnya Tuwas-was dulu semasih menjadi hutan selatan (Gawah Lauk) disanalah Alkalimi, Ayah TGH. Yahya Orang tua dari TGH Sibawaihi mendarat di bukit Tuwas-was.

Disitulah TGH Sibawaihi di Makamkan. Jarak tempuh sekitar 90 menit dari bandara ZAM.

Tuwas-was pernah dikunjungi Gubernur dan direncanakan menjadi Villa namun di tolak karena alasan Religi dan tidak dilirik turis seksi.

Tuwas-was sangat indah dilembah barat keutara teluk tanjung memanjakan mata pengunjung, dengan balai balai tempat bernaung dirimbunan pepohonan.

Disebelah timur keselatan jejeran bukit memanjang meneduhkan mata penziarah.

Waooooow Perfectly. Saat pertama kali saya berdiri di gerbang makam.

Pemakaman terletak tepat ditengah tengah. bangunan dibuat seperti masjid ditempat yang paling tinggi, hingga atapnya nampak dari semua penjuru.

Disekelingnya berjejer balai balai dan sebuah masjid, tempat beristirahat dan menikmati pemandangan selepas ziarah makam.

Aktivitas masyarakat selain berladang adalah bertani garam.

Kebiasaan itu adalah peninggalan dari Alkalimi setelah lelah berperang melawan penjajah dan memilih khalwat oleh para pengikutnya beliau digelari balok jawe.

Balok jawe adalah Jejuluk (Sebutan) beliau, Setelah ditangkap dan diasingkan beliau belajar bertani garam dipengasingan dipulau Jawa.

Alam yang asri dan anak tangga yang sangat banyak harus kita lalui, berebut dengan monyet monyet yang berkeliaran di pemakaman. Tutur penunggunya saat kami semua tiba.

Dipemakaman disediakan tempat mengambil air untuk wudhu, dan WC umum.

Didalam area pemakaman sangat teduh tempat duduk dari keramik dan makamnya di kelilingi pagar pengaman.

Selepas berdoa kami semua rowah dengan membuka bekal dan makan bersama.

 

Baca Juga :




 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 081997959683

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan