logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ketika Para Geolog Terpikat Kaldera Toba

Ketika Para Geolog Terpikat Kaldera Toba

Geopark Kaldera Toba mendapatkan pengakuan sebagai geopark nasional di tahun 2013 dengan wilayahnya yang mencakup 7 kabupaten. Mereka sedang berjuang

Wisata Alam

kabar solah
Oleh kabar solah
24 September, 2018 08:50:08
Wisata Alam
Komentar: 0
Dibaca: 1870 Kali

Geopark Kaldera Toba mendapatkan pengakuan sebagai geopark nasional di tahun 2013 dengan wilayahnya yang mencakup 7 kabupaten. Mereka sedang berjuang untuk ketiga kalinya demi mendapatkan titel UGG (UNESCO Global Geopark). 

JPP, SAMOSIR SUMATERA UTARA - Toba. InilaH nama yang memikat para penikmat alam, khususnya para geolog dunia. Bukan hanya keindahan bentang alam dan danaunya, namun yang utama adalah kekayaan geologinya.

Sejak Sabtu (21/9/2018) dan direncanakan berakhir Kamis (27/9/2018), serangkaian acara; seminar, Focus Group Discussion dan kunjungan lapangan digelar. Kegiatan diawali dengan seminar  Calderas and Super-eruptions, merupakan salah satu event utama dalam rangkaian "The 7th International Workshop on Collapsed Calderas", yang diselenggarakan di Tabo Cottage, Tuktuk Samosir, Sumatera Utara.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bertindak sebagai tuan rumah. Bergandeng tangan dengan International Association on Volcanology and Chemistry of Earth Interior (IAVCEI), panitia  menghadirkan 69 pakar serta peneliti di bidang geologi dan kegunungapian dari dalam dan luar negeri ini. Rangkaian acara tersebut dibuka Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo dan Bupati Samosir, Rapidin Simbolon.

Bertajuk "Assessing the Potential Impact of Super-Eruptions on Society and the Environment", seminar membahas dampak potensial secara sosio-ekologis dari letusan supervolcano, seperti misalnya Kaldera La Garita di Colorado AS, Toba di Sumatera Utara Indonesia, Taupo di Selandia Baru dan Aira di Kyushu, Jepang. Steve Self, peneliti vulkanologi dari University of California - Berkeley, Amerika Serikat yang akan mempresentasikan Materi tersebut di atas.

Bicara Kaldera Toba, setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Satu diantaranya adalah Shanaka de Silva, Vice-President International Association on Volcanology and Chemnistry of Earth's Interior (IAVCEI) yang juga merupakan Professor Geologi dan Geofisika dari Oregon State University, Amerika Serikat.

Shanaka, sebagaimana dilansir www.esdm.go,id, Minggu (23/9/2018), telah berpengalaman melakukan riset kegunungapian dan geologi batuan di banyak negara, di antaranya Chile, Jepang, RRT, Peru, Argentina, Bolivia dan tentu saja Indonesia. Namun, pengalamannya yang begitu spesial dengan Kaldera Toba berawal di perjalanannya ketika remaja.

Tahun 1976, saat ayah Shanaka merupakan seorang insinyur pada sebuah proyek pembangunan di Sigli, Provinsi Aceh, sang ayah mengajak Shanaka dan keluarga di Inggris untuk berlibur ke Danau Toba serta sejumlah tempat lain di Indonesia. Saat itu, di wilayah Tuktuk, hanya ada satu hotel besar yakni hotel Toledo Inn. Saat ini semuanya telah jauh berkembang.

Pengalaman Shanaka mengunjungi sejumlah tempat di Indonesia dan menyaksikan banyak gunung api, menginspirasinya memilih jurusan Geologi di Southampton University, dan lulus dengan gelar sarjana kehormatan/B.Sc (Hons).

Shanaka benar-benar tidak menyangka bahwa 36 tahun kemudian, tepatnya pada 2012, ia dapat mengunjungi Danau Toba lagi. Pada awalnya, Shanaka mengunjungi Toba untuk melakukan riset mengenai Pembentukan Pulau Samosir secara geologi (the Resurgence of Lake Toba).

Namun, karena kecintaannya dengan Danau Toba, sejak 2012 sampai dengan saat ini, Shanaka tidak hanya melakukan penelitian ilmiah mengenai Geologi Kaldera Toba. Secara komprehensif, bersama sejumlah peneliti dan pegiat sosial, Shanaka melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat serta peningkatan kapasitas dan kesadaran mengenai pariwisata dan lingkungan Danau Toba.

Salah satu tokoh yang terlibat aktif bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan tersebut adalah Annette Horschmann, sang "Butet Jerman", yang begitu peduli dengan lingkungan sekitar Danau Toba dan pernah menjadi tokoh inspiratif di salah satu program televisi Indonesia.

Menuju Geopark Dunia

Dari sejumlah daerah di Indonesia dengan sejarah geologi yang menawan, baru Batur dan Gunung Sewu yang masuk geopark global di bawah supervisi UNESCO. Tahun lalu, 2017, Pemerintah Indonesia mengajukan lagi Kaldera Toba kepada UNESCO agar mendapat status geopark global. Usulan pertama diajukan tahun 2014, namun masih ditolak pada 2015.

“Mudah-mudahan tahun ini, status geopark global itu diberikan UNESCO,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, saat meresmikan Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Toba di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, awal Januari 2018 lalu.

 

Baca Juga :


Hidayati, Kadispar sekaligus General Manager Geopark Kaldera Toba, Kamis (12/7/2018) di Konfrensi Nasional 1 Geopark Indonesia yang berlangsung di gedung Bappenas, Jakarta, menjelaskan pihaknya menyiapkan 5 hal agar Geopark Kaldera Toba  pantas untuk mendapatkan pengakuan UGG. Mereka melakukan beragam program demi UGG dan oeningkatqn kunjungan wisatawan. "Ada lima hal yang menjadikan geopark Kaldera Toba spesial, yaitu super vulcano dari gunung apinya, danau vulkanik yang super besar, keunikan suku Batak, landscape yang menawan, dan keanekaragaman hayatinya," ujar Ida.

Untuk itu, Geopark Kaldera Toba membuka diri, merangkul semua pihak dan unsur untuk memperkenalkan betapa uniknya geopark Kaldera Toba. "Kami telah menyusun dan memanjemen langkah untuk ke depannya," tutup Ida.

Geopark Kaldera Toba mendapatkan pengakuan sebagai geopark nasional di tahun 2013 dengan wilayahnya yang mencakup 7 kabupaten. Mereka sedang berjuang untuk ketiga kalinya demi mendapatkan titel UGG (UNESCO Global Geopark).

Pertama kali, Indonesia mengajukan tahun 2014 namun ditolak. Begitu juga di tahun 2017, Unesco pun akhirnya memberikan saran yang harus dibenahi.

Geopark Global UNESCO

Kaldera Toba memiliki aneka ragam kekayaan geologi, biologi, dan budaya bernilai tinggi. Akibat letusan supervolcano, 74.000 tahun yang lalu, terbentuklah kaldera raksasa berukuran 90 km x 30 km. Di kaldera ini terdapat danau vulkanik terbesar di dunia seluas 1.130 km persegi yang dikenal sebagai Danau Toba. Dengan kedalaman hingga 500 meter, danau ini menampung 240 km kubik air hujan setiap tahun.

Dinding Toba tersusun oleh berbagai jenis batuan tua yang terdiri atas batuan sedimen berusia lebih dari 300 juta tahun. Batuan ini merupakan batuan dasar pembentuk Pulau Sumatera. Kaldera Toba merupakan yang termuda di dunia. Proses ini ditandai oleh terbentuknya Pulau Samosir di tengah Danau Toba sekitar 33.000 tahun lalu.

Kaldera Toba sudah masuk geopark nasional dan kini tengah diupayakan untuk masuk geopark global di bawah supervisi UNESCO agar bisa menarik minat wisatawan. Hingga Mei 2017, terdapat 127 geopark global UNESCO. Di Indonesia, baru dua kawasan yang masuk geopark global UNESCO.

Geopark global versi UNESCO adalah manajemen kawasan geologi dengan konsep menyeluruh dan terpadu bertujuan untuk memberikan pendidikan konservasi serta pembangunan berkelanjutan. Geopark global UNESCO menggunakan semua aspek warisan alam dan budaya di kawasan ini untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan isu utama yang dihadapi masyarakat. Isu utama itu, antara lain penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, pengurangan dampak perubahan iklim, dan penurunan risiko bencana alam.

Selain Toba, Pemerintah Indonesia sedang berusaha untuk mendapatkan status geopark global bagi Rinjani, Ciletuh (Pelabuhan Ratu), dan Merangin (Jambi).

Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Toba ini dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba, dan Badan Geologi Kementerian ESDM. Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika di NTB merupakan 3 dari 10 daerah tujuan wisata proritas yang mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat.

Tiga daerah tujuan wisata ini dinilai lebih cepat mendatangkan wisatawan. Apalagi Toba akan berkembang pesat karena ditunjang Bandara Silangit. Jarak Silangit-Toba saat ini sekitar 80 km dan bisa ditempuh dalam dua setengah jam. Setiap hari, ada penerbangan langsung Jakarta-Silangit oleh Sriwijaya, Citilink, dan Garuda.(dee/bs)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan