logoblog

Cari

Tutup Iklan

MUMBER, Pesona Istana Bawah Tanah

MUMBER, Pesona Istana Bawah Tanah

Hari yang sangat terik. Perjalanan dari Sumbawa Besar sembari mencoba bersahabat dengan suhu 33°c menuju kota Taliwang yang berjarak 120 KM,

Wisata Alam

Randal Patisamba
Oleh Randal Patisamba
04 November, 2015 12:53:18
Wisata Alam
Komentar: 2
Dibaca: 27428 Kali

Hari yang sangat terik. Perjalanan dari Sumbawa Besar sembari mencoba bersahabat dengan suhu 33°c menuju kota Taliwang yang berjarak 120 KM,  kali ini terasa agak lama. Namun ketertarikan saya untuk segera merasakan sensasi menelusuri gua mengalahkan segalanya. Kami (Adventurous Sumbawa) mampir sejenak di Dinas Pariwisata KSB, melakukan koordinasi bersama dinas terkait dan tim Jejak Petualang Trans7. Perjalanan kali ini yaitu mengekplore keberadaan gua Mumber di Desa Bangkat Monteh, Sumbawa Barat. Kenapa Mumber? Mumber memiliki pesona stalagtit dan stalagmit yang unik.

Sesampai di Bangkat Monteh kami disambut dengan hangat dan ramah oleh pemdes bersama masyarakat setempat. Umbul2 terpasang disepanjang jalan yang kami lalui dan atraksi kesenian Baguntung menjadi pelengkap penyambutan mereka. Penyambutan diluar dugaan kami.

Usai melakukan silaturrahim serta mengecek kelengkapan peralatan, kami kemudian meninggalkan Desa Bangkat Monteh.  Menyusuri jalan pembangunan proyek Bendungan Bintang Bano.  Kondisi jalan berbatu lepas, menanjak dengan tikungan berkelokkelok seakan dilalap begitu saja oleh kendaraan ranger yang kami tumpangi. Tak terlalu jauh, hanya menempuh waktu sekitar 25 menit perjalanan kita sudah sampai pada titik pemberhentian. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Rimbunan pohon seakan tak mampu menghalau cuaca yang cukup terik siang itu. Langkah kaki menyeka guguran dedaunan yang berserahkan karena tak mampu bertahan dimusim kemarau. Kelelahan serta rasa haus mulai menghampiri. Sesekali kami berhenti untuk istirahat. Sebelum sampai di dataran pegunungan Bangkat Monteh. Jalanan cukup terjal dan mendaki dengan kondisi berbatu. Bisa dibayangkan saat musim hujan, kondisi jalannya pasti akan lebih parah lagi.

Sesampai didataran pegunungan terdapt dua buah pohon berjejer sama besar mengapit jalan setapak yang kami lintasi. Pohon ini dianggap sebagai gerbangmemasuki kawasan hutan Mumber. Bebatuan kapur mulai banyak kita jumpai yang ditumbuhi pepohonan maupun belukar, ciriciri hutan  yg memiliki gua.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam, akhirnya kami sampai juga. Karena hari sudah sore dan berbagai pertimbangan lainnya, kami bersama tim Jejak Petualang sepakat untuk menyusuri gua keesokan harinya. Malam harinya kami mendirikan tenda disamping mulut gua. Sambil melingkari api unggun saya sempat ngobrol sebentar dengan Pak Bolang ( 88 tahun ) - penduduk setempat pemilik kuda yang kami sewa untuk membawa sebagian perlengkapan kami. Beliau kemudia menuturkan. Keberadaan Gua Mumber sudah diketahui sejak zaman penjajahan Belanda. Gua ini dijadikan sebagai tempat pelarian dan persembunyian penduduk sekitar dari kejaran para kompeni Belanda. Setelah itu hampir tidak ada lagi orang yang memasuki Mumber. Baru pada tahun 1990 salah seorang penduduk Bangkat Monteh bernama Hamzah yang kembali berani memasuki gua ini. Kenapa dinamakan Mumber? Disekitar gua tumbuh tanaman Mumber, sejenis tanaman merambat yang biasanya dijadikan sayuran yang oleh penduduk sekitar. Itulah makanya gua ini dinamakan Mumber. Namun sayang sekali, hari itu kami tidak sempat menemukan rupa tanaman tersebut karena musim kemarau.

Keesokan harinya setelah mengecek semua perlengkapan- head lamp, helm, sepatu dan perlengkapan lainnya, kamipun mulai menyusuri gelapnya Mumber. Saat memasuki mulut gua kami langsung dihadapkan dengan ruang yang sangat luas, ibarat memasuki kastil bawah tanah yang tersembunyi dirimbunan pohon hutan tropis dengan ornamen berhiaskan stalgmit stalagtit dalam beraneka bentuk dan rupa. Memasuki Mumber cukup mudah dan medan didalamnya tidak terlalu sulit untuk dijajal, tidak berlorong-lorong seperti gua pada umumnya. Lengkingan suara sang pemangsa malam ibarat sebuah mahakarya dari sang maestro komposer musik klasik. Sepertinya mereka terusik oleh kedatangan kami. Suara yang aneh, bikin merinding namun terasa perpaduan yang sangat serasi dengan keadaan disekeliling kami! Disebelah kanan pintu masuk terdapat stalagtit yang sangat besar. Menghujam kedalam tanah dengan kokohnya. Berdiameter sekitar 8 meter. Salahsatu stalagtit terbesar yang pernah saya lihat. Pembentukan stalagtit disaat musim hujan ratarata 0,13 mm pertahunnya, musim kering jelas lebih lama lagi pertumbuhannya. Bisa dibayangkan berapa ribu tahun proses yang dibutuhkan untuk pembentukan stalagtit yang ada didepan kami. Sangat menakjubkan! Tepat berada ditengah atap gua terdapat lubang berdiameter 10 meter. Apabila matahari tepat berada diatasnya maka cahayanya akan menerobos menerangi kedalam gua seperti lampu sorot raksasa berkekuatan ribuan mega watt.

 

Baca Juga :


Aneka rupa dan bentuk stalagtit dan stalagmit juga menghiasi dinding sisi gua. Dilantai maupun dibebatuan terhampar serakan kotoran kelelawar dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menimbulkan aroma yang khas.  Diujung sebelah gua terdapat lobang yang sangat lebar. Pintu masuk ujung sebelahnya. Kita harus mendaki untuk mencapainya.

Karena keterbatasan waktu, hari itu kami memutuskan untuk mengeksplore satu gua saja. Ada beberapa rangkaian gua Mumber lainnya yang tentunya memerlukan waktu lebih banyak untuk bisa dijelajahi semuanya. Terasa berat memang, meninggalkannya karena tidak semua bisa dijelajahi dan penasaran saya mungkin akan terjawab dikunjungan berikutnya.

Mumber dengan sejuta pesonanya masih menjadi misteri ditambah dengan ceritacerita mistis masyarakt setempat yang melingkupi keberadaannya. Biarkan dia bersemayam, tersembunyi, jauh dari hiruk pikuk modernitas perkotaan. Ia adalah potensi kekayaan dari sebuah proses evolusi alam. Berada dijalur lalulintas arus pariwisata dunia, Bali-Komodo-Bunaken. Masih terpinggirkan. Namun, kelak dia akan menjadi main destination, pemain utama pariwisata Sumbawa maupun indonesia. Tentunya semua hal ini akan dapat terwujud apabila terbangun sinergitas antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keberadaannya serta memperkenalkannya ke pentas wisata dunia.

Semoga. () -01



 

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. Randal Patisamba

    Randal Patisamba

    18 Januari, 2017

    Terima kasih Jong Celebes. Ayoo kapan menjelajahi Sumbawa?


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    07 November, 2015

    Your adventure is nice...i like it.......


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan