logoblog

Cari

Tutup Iklan

Jejak Pesona Di Pulau Lima Suku

Jejak Pesona Di Pulau Lima Suku

Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh,

Wisata Alam

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
21 Desember, 2014 21:05:16
Wisata Alam
Komentar: 0
Dibaca: 6225 Kali

Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku.

Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku.

 Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku.

 Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

 

Baca Juga :


Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku.

 Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku.

 Naik perahu ke suatu pulau sungguh indah dan menyenangkan. Semilir angin sepoi-sepoi basah menghempas di helaian rambut dan ke seluruh tubuh, hingga hati dan perasaan menjadi damai dan bahagia. Apa lagi jika bersama dengan orang terdekat, atau pun handai taulan, nikmat tersa hidup ini. Permainan ombak kecil yang saling berkejaran yang diiringi sayap-sayab burung yang menari-nari di atasnya, sungguh menabjukkan. Terlebih jika air laut yang lagi bersahabat dengan sambutan permukan yang tenang, kita pun dapat menyaksikan dengan jelas biota kehidupan di bawah laut. Batu karang yang begitu eloknya dihiasi oleh sejumlah jenis ikan yang berwarna warni, atau pun terkadang mereka bergerombol mengemuruni kelompok karang hayati (trumbu karang). Sungguh indah nan mempesona.

Salah satu pulau yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berekreasi dengan mempergunakan perahu adalah Pulau Maringkik. Pulau ini merupakan sebuah pulau kecil yang imut, terpencil, sangat tradisional, dan dihuni oleh lima suku bangsa, yakni suku bugis, suku bajo, suku makassar, suku buton, dan suku sasak. Pulau ini terletak di bagian selatan dari pulau Lombok, dan masih merupaka wilayah dari Kabupaten Lombok Timur, Nusa tenggara barat.

Sebelum tahun 2013, pulau ini merupakan sebuah dusun yang bergabung pada Desa Tanjung Luar, Kecamatan Kruak. Karena dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat oleh migrasi luar dan terjadi peningkatan ekonomi yang mebaik, maka pulau ini dimekarkan menjadi sebuah desa, yaitu Desa Pulau Maringkik pada tahun 2013

Luas wilayah pulau ini adalah kurang lebih 15 ha, yang dihuni oleh sekitar 2700 jiwa penduduk. Sumber mata pencaharian utama penduduk di sini adalah bekerja sebagai nelayan. Sebagian kecil membuat atau menenun kain dengan peralatan sangat sederhana yang didatangkan dari daerah asalnya.

Pulau ini sangat kecil, terpencil dan jauh dari pusat perkotaan. Untuk mengunjungi pulau ini, beberapa perahu yang tersedia di Dermaga Tanjung Luar yang siap mengantar para penumpang. Hanya saja jika angin kencan telah tiba, tak satu pun perahu berani untuk mengantar penumpang menuju ke pulau terpencil ini. Kecuali jika melewati Dermaga Telong-elong yang terletak di sebelah kampung Lungkak, pihak pemilik perahu masih bisa menyeberang ke tempat ini karena angin yang ada di Dermaga Telong-elong tidak terlalu keras, yang mana tidak berhadapan langsung dengan laut lepas.Hanya saja dermaga ini sulit dijangkau oleh kendaraan umum dan jauh dari pusat perkampungan ramai.

Menyeberang dari Dermaga Tanjung Luar menuju ke Pulau Lima Suku ini menpergunakan waktu sekitar 20 menit di atas perahu. Di saat perahu telah mebuang jangkar di Dermaga Pulau Maringkik, para penumpang harus turun dari perahu dengan menumpukkan ke dua kaki di sejumlah deretan bambu yang terapung di atas permukaan air, lalu menanjak menuju ke atas daratan dengan melalui titian bambu yang berjejer rapat dengan posisi miring.

Di saat masih berada di atas perahu, dari kejauhan nampak pulau ini dengan sejumlah batu karang yang memanjang mengikuti lingkaran pulau kecil ini. Deretan rumah panggung yang merupakan ciri khas orang Sulawesi yang menetap di pulau ini dan sebuah menara masjid sangat jelas kelihatan. Pandangan pertama ketika memasuki wilayah pulau unik ini adalah rumah-rumah panggung adat Sulawesi yang tidak teratur  dan terkesan kumuh, namun hati terpesona memandangnya.

Menjejaki perkampungan di pulau ini, harus berjalan kaki. Tidak ada jalanan aspal, hanya ada lorong kecil yang kurang jelas arahnya,atau pun terkadang kita menyelinap di sela-sela rumah pendudduk. Lorong keci atau jalan setapak yang ada di wilayah ini mengikuti kondisi tanah yang tidak merata dan memiliki ukuran lebar dua meter, terkadang satu meter,atau pun terkadang pada bagian ujungnya menjadi setengah meter, bahkan menjadi buntu. Luar biasa tapi unik.

Penduduk yang ada di pulau ini sangat senang ketika melihat orang luar datang berkunjung di lokasi ini. Mereka pun bersikap ramah dan menyapa, bahkan memanggil mampir di rumahnya. Selain itu, hewan piaran berupa kambing turut menambah suasana gembira di tempat ini. Pada bagian perkampungan penduduk ini, segerombol kambing yang menampakkan dirinya, yang seolah-olah bersikap ramah dan senang menyambut kedatangan orang luar. Bila di dekati lalu dielus-elus bulunya yang panjang dengan aneka warna, mereka akan lebih mendekatkan tubuhnya dan memanjakan diri pada pengunjung. Intinya mereka seolah-olah bersikap ramah dan bersahabat dengan pengunjung.

Asyik dan menyenangkan berjalan di lorong-lorong perkampungan ini. Rumah panggung yang berdinding bambu,  dan beratap daun menjadi rumah khas pada kaum migran yang ada di sini. Kerap kali  dijumpai  rumah panggung di daerah pesisir lain, seperti di labuhan Lombok, namun ketika kita melihat sejumlah rumah panggung yang ada di kawasan ini, terasa suasan rumah panggung di wilayah ini lebih unik. Di atas pasir, sebagian penduduk di sini mendirikan rumah panggung dengan bahan dasar dari bambu. Mulai dari tangga, dinding, sampai lantai di dalam ruangan rumah adalah serba bambu. Atapnya pun masih banyak warga penduduk yang memprgunakan dedaunan, namun sebagian warga penduduk mempergunakan atap seng. Oh ya, bila mencermati ruangan inti dari rumah ini, adalah terdiri dari tiga bagian pokok ruangan. Bagian paling depan adalah ruangan untuk tamu, bagian tengah adalah ruangan untuk istirahat atau tempat tidur. Sedangkan bagian belakang adalah ruangan untuk masak-memasak dan sekaligus sebagai ruangan makan bersama keluarga. Namun kebanyakan pemilik rumah juga membuat serambi pada bagian depan dari pintu luar, dan serambi ini sebagai tempat untuk duduk-duduk bersama keluarga sambil memandang keluar. Bagian bawah dari rumah panggung ini adalah sebuah kolom yang juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Ataupun para ibu-ibu yang ada di Pulau Maringkik ini mempergunakan kolom rumah tersebut sebagai tempat untuk melakukan aktiftas khususnya yaitu menenun kain atau sarung. Sarung atau kain yang ditenun adalah sarung yang bercorak dari lima suku bangsa, yaitu sarung bercorak bugis, corak buton, corak sasak , corak bajo dan sarung bercorak makassar.

 Pada waktu malam, rumah panggung yang ada di pulau yang imut ini diterangi oleh lampu listrik dengan memperguanakan mesin jenset dari masyarakat setempat. Di awal malam penduduk dapat merasakan lampu listrik sampai jam 12 malam. Ketika mesin jenset sudah mati, mereka menyambung penerangan untuk ruangan rumah dengan mempergunakan lampu minyak tanah yang digantung atau ditempel pada dinding rumah. Sangat unik, teringat pada masa tempoe doeloe.

Masalah jamban, sebagian penduduk Maringkik mebuat WC dari semen yang letaknya di dekat tangga rumah, dan sebagian warga penduduk  memilih membuang tinja di tepi pantai. Untuk kebutuhan air bersih, dari pihak pemerintah telah menyalurkan air PAM dari Lungkak melalui pipa panjang yang membentang di bawah laut. Namun saja pembagian air di tempat ini terjadi secara terjadwal, sehingga penduduk di sini masih kebanyakan mempergunakan air sumur untuk mandi dan mencuci. Jenis air sumur di lokasi ini adalah payau yaitu perpaduan air tawar dengan air asin. Kecuali untuk minum dan memasak mereka pun mempergunakan air PAM.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa mata pencaharian penduduk di pulau terpencil ini adalah bekerja sebagai nelayan.  Sebagai penduduk pendatang, mereka bertahan hidup dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman atau budaya yang didatangkan dari daerah asalanya. Di pulaui ini di dominasi oleh orang Sulawesi, yang mana moyangnya sangat terkenal dengan pelaut ulung atau sebagai nelayan. Dengan keberhasilan penduduk di wilayah ini bekerja sebagai nelayan, suku sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok tak ketinggalan  menjadi pendatang di pulau ini untuk ikut ke laut mencari nafkah, sehingga suku yang ada di sini bukan hanya dari Sulawesi saja. Adapun suku yang ada di Pulau Maringkik ini adalah seperti yang dijelaskan pada bagian depan adalah suku-suku yang datang dari Pulau Sulawesi, yakni suku bugis, makassar, bajo, buton, sedangkan suku sasak berasal datang dari Pulau Lombok. dan kesemuanya membaur di wilayah ini, sehingga terbentuk akulturasi budaya. Salah satu hasil akukturasi budaya yang ada di pulau kecil ini adalah lima bahasa yang bercampur-aduk sehingga membentuk bahasa campuran yang disebut bahasa maringkik.

Sebagai penduduk yang berprofesi sebagai nelayan, tidaklah bekerja dengan sendirinya. Mereka pun bekerja dalam bentuk kelompok. Dalam satu kelompok perahu terkadang melibatkan tiga orang atau lebih untuk melakukan penangkapan ikan di laut. Anggota-anggota dalam kelompok perahu tersebut bukan berarti hanya beranggotakan satu suku saja, melainkan kerap sekali terdiri dari penggabungan dari beberapa suku. Mereka berbeda suku, namun mereka beranggapan kalau dirinya adalah bersaudara.

Istri-istri nelayan yang ada di pulau ini, tak ketinggalan pun untuk ikut andil atau mengambil peran dalam membantu sang suami ketika pulang dari laut. Ketika sang suami pulau dari laut, sang istri pun ikut membantu untuk memasarakan hasil tangkapan ikan. Mereka pun membawanya ke pasar ikan yang ada di seberang laut, yaitu di pasar ikan Tanjung luar. Kalaupun tidak dipasarkan di dipasar Tanjung Luar , sejumlah perahu dari  luar daerah yang kerap kali datang untuk membeli ikan di pulau ini dengan jumlah yang besar, sehingga pada waktu pagi atau siang hari sejumlah nelayan dan juragam ikan yang melakukan  transaksi jual beli ikan di tepi pantai. Indah nan mempesona pemandangan di tepi pantai ini ketika mereka dengan sibuknya melakukan kerja sama di sela-sela jejeran perahu.

Pada musim paceklik atau ketika angin kencan tiba, tak satu pun nelayan memberanikan diri untuk mencari nafkah di laut. Sebagai pengalaman hidup, mereka melakukan pinjam meminjam antara sesama nelayan, atapun menabung uang setiap kali mendapatkan keuntungan dari laut, yang akan menjadi persiapan modal pada musim paceklik dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun untuk mensiasati hal ini, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sebagian istri-istri nelayan di pulau ini membuat kain atau sarung yang bercorak khas Sulawesi atau corak sasak di kolom rumah panggung dengan mempergunakan peralatan tenung tradisional. Mereka pun menjualnya pada pengunjung yang datang dari luar atau memasarkan ke daerah lain.

Menjejaki kebiasaan-kebiasan penduduk yang ada di wilayah ini, suatu keunikan yang menarik dipandang mata adalah ketika matahari sudah meninggi, ada banyak kaum perempuan mengenakan bedak lulur tradisional pada wajahnya. Bedak lulur ini terbuat dari beras yang dicampur dengan belahan pinang dengan melalui proses penumbukan di batu lesung atau pun cukup dengan dikunya saja, kemudian di lulurkan pada wajah. Hal ini dilakukan agar kulit wajah tidak rusak oleh sengatan sinar matahari yang begitu panas.

Pada waktu senggang pun, kerap kali dijumpai kaum perempuan di pulau unik ini duduk berderet dari atas ke bawah di atas tangga sambil mencari kutu. Iyya, suatu kebiasaan atau budaya sosial pulau ini yang masih bersifat sangat tradisional.

Selain aktifitas nelayan dan kaum perempuan yang sangat unik dan mengesankan, yang mana pada siang harinya, anak-anak di saat pulang dari sekolah, mereka asyik dan bahagia bermain bersama teman-temannya di tepi pentai. Mereka  berlari-lari, saling berkejar-kejaran, atau pun mereka memungut kerang-kerangan yang sudah mati sebagai alat permainan. Mereka pun mencari kerang-kerangan tersebut dari atas pasir dan di cela-cela tumpukan batu karang.

Satu hal yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang di pulau maringkik ini adalah sebuah goa yang merupakan peninggalan bangsa Jepang pada zaman penjajahan. Konon cerita penduduk bahwa goa yang berada di bawah bukit dan berhadapan langsung dengan laut lepas merupakan tempat persembunyian dari tentara-tentara Jepang pada zaman penjajahan. Goa ini masih kelihatan utuh dan sering menjadi tempat peristirahatan oleh nelayan-nelyan bila turun dari perahunya.

Suatu potongan daratan yang menabjukkan di atas bukit adalah sebuah daratan yang berukuran dua meter memanjang dan menjorok ke pertengahan laut lepas, hingga bila kita berada di ujung daratan ini, seolah-olah kita diapit oleh laut yang berwarna biru. Indah nan menabjukkan. Terlebih jika kita memandang ke tepi pantai, jejeran perahu yang bertengger di atas pasir, dan sebagian di permukaan laut dengan membentuk barisan  yang sejajar.

 Ketika cakrawala barat mulai memerah darah, matahari di belahan langit barat secara perlahan turun untuk melabuhkan tubuhnya di balik permukaan laut. Inilah ‘sunset’ yang dapat dinikmati oleh penduduk yang ada di pulau ini. Mereka duduk di tepi pantai di atas pasir menanti kedatangan suami atau kelurga, ataupun sahabat yang pulang dari laut mencari nafkah sembari menikmati sebuah demonstrasi alam yang ada di belahan bumi barat.

Sangat mempesona budaya penduduk di pulau ini. Alam beserta dengan penghuninya bersahabat kian mengikuti pergeseran waktu. Suatu keunikan yang paling menabjukkan di pulau ini  adalah tatkala air laut lagi surut, tumpukan pasir putih yang timbul membentang luas dan memanjang sampai ke sebuah pulau seberang, yaitu pulau bumbung. Beberapa penduduk dan sejumlah pengunjung dengan sengaja datang berjalan kaki di atas pasir putih yang berkilau ini untuk menyusuri pesona pasir pantai  menuju ke Pulau Bumbung. Sejumlah binatang laut atau orang Maringkik menyebutnya sebagai bintang laut menampakkan diri di tepi pasir, yang menjadi inceran dari pengunjung untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari pulau ini. Berbagai biota laut di laut dangkal sangat jelas dipandang mata ketika pasang lagi surut. Trumbu karang dengan warna warninya dapat disaksikan pada air laut dangkal ketika sang pengunjung berada di atas perahu. Inilah keunikan dan kebanggaan di pulau ini dengan sejumlah pesona alam dan budaya yang dihuni dan dikembangkan oleh lima suku. [] - 05

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan